MUSLIMIN
Muslimin (kaum yang berserah diri)
Seorang dikatakan sebagai seorang muslimin adalah apabila dia mau untuk berserah diri. Berserah diri kepada siapa? Jawabnya tentu saja berserah diri kepada Allah swt, Tuhan dirinya yang berhak dia sembah. Bukan berserah diri kepada hawa nafsunya, orang yang berserah diri kepada hawa nafsunya belum bisa dikatakan sebagai seorang muslim sejati. Mereka yang berserah diri pada nafsunya adalah mereka yang menganggap bahwa ilmu mereka, golongan mereka, harta mereka, keturunan mereka adalah yang paling baik dari yang lainnya dan (lebih celaka lagi) mereka anggap bahwa mereka mendapatkan itu semua atas dasar kekuatan mereka, atas dasar amalan mereka, dan bukan atas dasar rahmad dan kasih sayang Allah swt terhadap diri mereka.
Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.(QS 27 An Naml ayat 91)
Bahkan dalamHadis riwayat Ibnu Abbas ra.:
Bahwa Rasulullah saw. pernah berdoa dengan membaca: “Ya Allah, kepada-Mulah aku berserah diri dan kepada-Mulah aku beriman, terhadap-Mu aku bertawakkal dan kepada-Mu aku kembali serta dengan (pertolongan) Engkau aku berperang. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu, tidak ada Tuhan selain Engkau, agar Engkau tidak menyesatkan aku, Engkaulah Yang Maha Hidup dan tidak akan mati sedang jin dan manusia semuanya akan mati”. (Shahih Muslim No.4894)
Bukankah Islam itu berawal dari awal kata “aslamtu” yang berarti berserah diri, sehingga dari “aslamtu” akan dapat tercipta keselamatan diri “salama”.
(yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”[772]. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.(QS 13 Ar Rad ayat 23-24)
Maka dari itu wahai jiwaku, dan saudara-saudaraku ikwan fillah yang dirahmati Allah swt, marilah kita kembali kepada Allah swt menjadi orang-orang muslimin(mereka yang berserah diri), berserah pada keputusan dan ketetapan Allah dan berusaha mensyukurinya dalam setiap langkah hidup kita.
Kenapa kita harus berserah karena;
Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).
Allah swt yang telah menciptakan mahkluk (termasuk kita manusia) dan telah memilihkan apa yang terbaik untuk diri kita, walaupun terkadang kita tidak mengerti bahwa kenapa yang terbaik menurut Allah kadang tidak sesuai dengan kehendak nafsu kita (baca bukan kehendak hati).
Lalu bagaimanakah kita harus bersikap dalam pilihan ini?, wahai jiwaku ketahuilah bahwa kita harus mampu untuk mengembalikan semua keinginan kita untuk memilih dan mengatur kehendak (nafsu kita) kembali kepada pilihan kehendak Allah swt, caranya pahamilah saat Allah swt tengah berbicara kepadamu dengan kalam-Nya melalui Al Qur’an dan Sunnah Rosul saw. Kekasih-Nya.
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ
Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. (Lukman ayat 22)
Dalam riwayat hadits Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:
“Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Selama kalian berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Dan tidak akan terpisah keduanya sampai keduanya mendatangiku di haudh (Sebuah telaga di surga, Pen.).” (HR. Imam Malik secara mursal (Tidak menyebutkan perawi sahabat dalam sanad) Al-Hakim secara musnad (Sanadnya bersambung dan sampai kepada Rasulullah ) – dan ia menshahihkannya-) Imam Malik dalam al-Muwaththa’ (no. 1594), dan Al-HakimAl Hakim dalam al-Mustadrak (I/172).
Lalu apakah mereka yang telah bersyahadat pada Allah swt dan Rosul-Nya, namun belum menjalankan perintah-Nya dan menjahui larangan-Nya belum bisa dikatakan muslimin?, wahai jiwaku dengarlah jawaban ini, secara hukum syar’i (dimana kamu harus mau berserah diri kepada Allah swt mengakui keagungan-Nya dalam hukum syar’i ini) mereka dikatakan sebagai orang islam, haram harta mereka dan jiwa mereka kita jamah dan kita bunuh, wajib bagi kita menjaga kehormatan mereka dan sanak keluarga mereka, karena mereka secara syar’i adalah saudara-saudara (ikhwan fillah) kita. Namun jika merujuk dari firman Allah tersebut diatas (QS An Naml ayat 91) mereka belum dapat dikatakan sebagai “orang-orang yang berserah diri kepada Allah – muslimin”.
Kalau begitu ajarilah aku menjadi seorang yang muslimin?!, wahai jiwaku dengarlah nasihat ini, mari segera kembali pada Allah swt melalui Kitabullah dan Sunnah Rosul saw, jadikan keduanya referensi awal dalam setiap memecakan problematika hidup dan jadikanlah keduanya sebagai pendamping langkah-langkah mu dalam menapaki kehidupan dibumi Allah yang rendah namun juga mulia ini. Ingatlah tujuan diciptakanmu oleh Allah adalah beribadah salah satunya adalah menjadi khalifatulloh (wakil Allah swt) dibumi milik-Nya ini dan menunjukan pada mahkluk Allah lainnya akan keagungan, keesaan, kerahman-rahim nya Allah swt, dengan kata lain berakhlaq lah seperti akhlaq Allah yang Allah puji akhlaq-Nya sendiri dalam Al Qur’an, dan karena juga kekasih Allah, Muhammad saw juga meneladani akhlaq Allah didalam Al Qur’an.
Bagaimana aku bisa mengenali akhlaq Allah swt didalam Al Qur’an ini?, wahai jiwaku dengarkanlah nasihat ini. Lihatlah baik-baik lalu bacalah dan perhatikan dengan seksama dalam Al Qur’an itu bahwa semua ayat yang mengajarkan kepadamu tentang nasihat taqwa maka itulah salah satu akhlaq Allah yang bisa kamu pelajari dan kamu amalkan, maka sebab itu bila kamu telah mengenal ilmu ini maka amalkan jangan sampai seperti kaum terdahulu yang telah didatangkan kitab terhadap mereka lalu mereka mengacuhkannya dan berpaling, maka Allah swt akan memalingkan hatinya dari keimanan (jalan Allah yang lurus) sehingga mereka menjadi sesat dan Allah menyesatkan mereka dengan mengunci mati hati mereka, maka tiada guna lagi saat itu yang diseru tak mungkin lagi mendengar, sesungguhnya bukan mata itu yang buta tetapi hatinya, bukan telinga itu yang tuli tetapi yang tuli itu adalah hatinya. Karena itu wahai jiwaku jangan dirimu menyalahi dari perintah dan larangan Allah swt, mari cepat-cepat kita bertobat dan beristigfar yang banyak karena kita bukan orang yang maksum.

DISKUSI KITA