Arsip

Posts Tagged ‘mukminin’

Belajar Dari Ayat-Ayat Allah Yang Ada di Alam

November 3, 2009 cak mamad Tinggalkan komentar

Haa Miim, Kitab (ini) diturunkan dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman. Dan pada penciptakan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini, dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya.(QS. Al Jaatsiyah ayat 1-6)

Beberapa hari yang lalu, perjalanan KRL mengalami gangguan lagi dan terjadi keterlambatan hingga saya sampai stasiun Citayam pukul 18.20 wib.

Hujan kembali menguyur begitu saya keluar dari gerbong KRL, dahulu sering kali saya berkeluh kesah disaat turun dari kereta yang terlambat dan tiba-tiba hujan datang menguyur sehingga membuat saya harus menepi, lalu mengerutu dan protes kepada Allah (meskipun protes itu dipanjatkan dalam alunan doa).

Kenapa Hujan harus datang menguyur bumi saat saya belum sampai rumah?, sering kali saya berdoa dan menengadah kelangit melihat mendung hitam tebal masih mengantung dan butiran air turun darinya. “Ya Allah, Ya Rahman Ya Rahim, aku tahu bahwa hujan ini adalah rahmad Mu Ya Allah, tapi aku belum sampai kerumah, perkenankanlah agar hujan ini berhenti (reda) sementara waktu hingga hamba sampai rumah, kumohon ya Allah?!” dan seringkali Allah swt menjawab langsung doa saya bukan dengan mereda (berhentinya hujan) namun dengan suara dan kilatan cahaya petir dan halilintar, lalu Allah perintahkan awan mendung itu untuk semakin mencurahkan guyuran air hujan semakin deras dari langit.

Seringkali kejadian tersebut terulang dan hampir pasti jawaban dari Allah swt atas permintaan saya adalah tidak!, dan saya pun semakin bertanya-tanya apakah yang salah dengan doa saya? Kenapa Allah swt tidak mengabulan doa saya?

Kemudian hingga suatu hari saya terjebak kembali dalam hujan deras, pada saat itu saya lupa tidak membawa paying ataupun mantel hujan, baju sudah basah separuh terkena butiran air yang ter-tiup angin saat hujan, kurang lebih 15 menit lagi magrib tiba, sedang baju saya sudah tidak layak untuk menegakan shalat, (saat itu) dengan terpaksa saya menunggu sambil tidak berhenti berharap pada Allah untuk meredakan hujan-Nya.

Tiba-tiba dalam duduk saya seperti sedang diberi pelajaran melalui ayat-ayat kauniah-Nya (melalui kehidupan nyata dialam ini), Butiran air hujan itupun bertasbih pada Allah, “Maha suci Engkau, Engkaulah yang memberikan rezeki pada mahkluk-Mu. Allah swt melalui butiran air hujan tersebut memberikan rezeki kepada mahkluk-mahkluk Nya (terutama manusia ; hamba-hamba Nya). Dalam deras hujan mata saya dituntun untuk memperhatikan bagaimana anak-anak kecil pengojek paying berebut mengais rezeki dalam deras hujan tersebut, sumingrah senyum bahagia mereka seolah berharap semakin banyak penumpang yang memanggil jasa mereka.

Tidak jauh dari tempat saya terduduk saya perhatikan sebagian penumpang yang sama-sama terjebak hujan dengan saya sedang asyik menikmati semangkuk wedang ronde hangat, dan saya lihat betapa bapak tukang ronde tersebut begitu sibuk melayani penumpang-penumpang lainnya.

Ditempat lainnya saya perhatikan ibu tukang kue dan lauk-pauk (makanan matang) pun tak kalah repotnya kebagian rezeki, sibuk melayani penumpang-penumpang kereta yang lainnya.

Tukang rokok laris dipanggil sebagian penumpang pria, yang merasa asyik dan nikmat menghisap sebatang rokok dikala hawa dingin dalam deras hujan.

saya terpekur disana, ditempat duduk saya, diam dan merasa begitu kecil. Saya merasa bersalah karena dalam doa (yang kemarin-kemarin hari) yang saya pinta, begitu kurang ajar dan tidak sopan meminta Allah menghentikan rahmad-Nya yang begitu agung hanya untuk kepentingan pribadi saya, duh…saya malu kalau merasa diri ini telah berhasil melepas “EGO”, ternyata hujan menyadarkan saya bahwa saya masih jauh dari maqom tersebut.

“Tilka Ayatun”, itulah ayat-ayat yang nyata yang (juga) terdapat di alam semesta dan dalam diri orang-orang beriman.

jika saja kita mau diam dan mendengarkan maka disinilah Allah menampakan kebesaran dan keagungan Dzat-Nya, dan Dia (seolah-olah) mengajak berbicara (dialog) dengan kita melalui ayat-ayat Nya yang nyata ini.

Mukminin (Orang-Orang yang Beriman)

Mukminin (kaum yang beriman)

Iman menurut bahasa adalah percaya dengan penuh keyakinan akan suatu (permasalahan). Iman pada Allah secara bahasa adalah percaya dengan penuh keyakinan tentang adanya Allah swt, Tuhan yang menciptakan manusia dan satu-satu-Nya yang wajib untuk disembah.

 Namun sebelum melangkah jauh untuk beriman seharusnya kita mampu untuk berserah diri (melepaskan segenap ego ke’aku’an kita) hanya kepada Allah;

الَّذِينَ آمَنُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا مُسْلِمِينَ

Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri. (QS Az Zukruf ayat 69)

Saat kita telah mampu untuk melepasakan keakuan kita, maka Allah swt akan menyuruh kita untuk bersyahadat (ungkapan penyaksian kembali) kepada Allah swt dan kekasih-Nya Rosul Muhammad saw. Yang ditunjukan dalam firman Allah swt berikut;

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, ………QS Al Hujurat ayat 15)

Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.(QS Al Imran ayat 68)

Iman itu bukan sekedar percaya dan yakin, namun tingkatan iman kita harus mampu untuk mengapai tingkatan penyaksian kembali pencipta kita dalam bahasa lain ini adalah ma’rifatulloh.

Dalam suatu hadits Rosul saw bersabda bahwa;

“awalludin ma’rifatulloh” artinya bahwa awal mula beragama adalah dimulai dengan mengenal Allah.

Bagaimana kita bisa beribadah bila kita tidak mengenal Allah terlebih dahulu?, dan bagaimana kita bisa mencapai tingkatan keyakinan pada Allah swt bila kita sendiri belum mengetahui dan mengenal Allah swt. Ibadah bukan hanya menyembah sesuatu yang kosong, jauh di awang-awang. Allah itu dekat bahkan lebih dekat daripada urat leher kita, Allah itu dekat bahkan lebih dekat daripada doa permintaan kita, sebelum berdoa pun Allah sudah mencukupi keperluan hidup manusia.

Inilah maknanya dua kalimat syahadat (selain sebagai awal gerbang seseorang diakui islam) yakni pengulangan persaksian awal manusia tentang keimanan yang telah Allah swt tanamkan jauh dilubuk hati setiap anak adam.

Syahadat yang pertama adalah persaksian dan penafikan, bahwa yang ada dahulu, sekarang dan selamanya ada hanyalah Allah, dan kita menafikan bahwa tidak ada Tuhan lain yang berhak kita ibadahi selain hanya kepada Allah swt.

Bahkan sebelum manusia itu ada wujud dialam dunia ini, saat manusia itu belum dapat disebut sebagai apapun itu-saat manusia disebut dengan nama ruh, atau dengan nama lain sebuah nafsa (diri), maka setelah Allah menciptakan nabi Adam as. dan Allah swt. mengusap tulang sulbi nabi Adam as. dan saat itu berguguranlah benih keturunan (sudhr) Adam as. (yang saat ini disebut manusia) dan Allah menetapkan mereka sebagai penghuni surga dan penghuni neraka, namun nabi Adam as. merasa kasihan atas keturunannya yang ditetapkan sebagai ahli neraka, maka Adam as. meminta kepada Allah agar mereka diberi kesempatan sama dengan penghuni surga, maka Allah swt menetapkan persaksian tersebut kepada anak keturunan Adam as. sehingga saat hari pembalasan datang tak akan ada lagi anak keturunan Adam yang berkelit akan keputusan Allah;

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, (surat 7 ayat 172)

Maka dari ayat tersebut diatas Iman adalah persaksian nafsa (jiwa/diri) kita pada diri ke-Esa’an Allah swt. syahadat pertama mengajarkan kembali manusia akan hakikat persaksian ini.

Sedangkan untuk dapat sampai kembali pada Allah swt maka diri kita harus mau berjalan dibawah takdir ketetapan pilihan Allah swt saat manusia itu hidup dialam dunia ini.

Untuk selamat sampai pada Allah swt maka Allah memerintahkan pada diri kita untuk tunduk patuh kepada Rosul-Rosul Nya (terutama pada diri Rosul Muhammad saw.) inilah sebagian makna dari kalimat syahadat yang kedua.

Saat kita bersaksi dalam syahadat yang kedua artinya kita tunduk  patuh pada pengaturan Rosul saw. Saat Rosul saw. Mengatakan atas suatu fatwa akan suatu maslah maka hendaknya diri kita mematuhi fatwa tersebut. Inilah ditegaskannya berlakunya hukum syariat kepada umat muslimin.

Mengapa harus syariat?, syariat mengandung kekuatan tersendiri yang membawa manusia untuk dapat selamat dunia dan akhirat, syariat terutama sangat dibutuhkan sandingannya bagi kita yang berjalan dibawah panji hakikat, sebab berjalan dalam hakikat tanpa dilandasi syariat artinya kita dapat tersesat (sindik), sedangkan bila kita mengandalkan syariat saja tanpa mengiringinya dengan hakikat maka bisa timbul rasa ujub dan hasud. Keduanya baik itu sindik maupun ujub/hasud adalah bencana bagi diri manusia, karena keduanya menghantarkan kita pada laknat Allah swt.

Bagaimanakah Rosul saw menghantarkan kita dalam keimanan ini untuk sampai pada derajat menyaksikan dan disaksikan oleh Allah swt. (dalam kata lain sampai pada maqom ihsan)?, baginda Rosul Muhammad saw. Mengajarkan pada umatnya melalui dua hal utama yakni Kitabulloh (Al Qur’an) dan Sunnah nya.

 Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.(QS surat A Nissa ayat 136)

Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Quran), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.(QS An Nisa ayat 162)

Sebab hanya melalui Al Qur’an inilah (dan dengan bimbingan Allah dan Rosul-Nya) maka manusia dapat selamat dalam kehidupan dunia dan akhirat.

ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

 Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,(Al Baqarah ayat 2)

Ini adalah kalamullah yang didalamnya adalah surat cinta dari Allah swt kepada hamba-hamba Nya dan tidak ada keraguan didalamnya sebab ini adalah petunjuk dari Allah swt. maka daripada itu ikutilah petunjuk yang sudah ada ini wahai jiwaku.

Bila kita sudah mampu mengenal hakikat ketiga macam ini maka selanjutnya Rosul saw melanjutakan nasehatnya kepada diri kita tentang Iman ini; dalam hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Pada suatu hari, Rasulullah saw. muncul di antara kaum muslimin.
Lalu datang seorang laki-laki dan bertanya: Wahai Rasulullah, apakah Iman itu? Rasulullah saw. menjawab: Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, rasul-rasul-Nya dan kepada hari berbangkit………….

Dalam satu ayat Al Qur’an Allah swt berfirman;

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS. Al Baqarah ayat 285)

Inilah yang telah diajarkan oleh Rosul saw tentang keimanan yaitu tentang rukun iman.

Iman adalah sebagimana Ruh, ia adalah subtansi kekuatan dalam tubuh manusia sedangkan pembenaran apakah orang itu telah beriman atau belum adalah terpancar dalam tingkah laku kesehariannya (dalam kata lain, terlihat dari adab perilakunya sehari-hari), adab perilaku inilah yang biasa kita sebut dengan Taqwa.

Taqwa adalah pakaian yang membungkus iman manusia, taqwa adalah sebaik-baik pakaian dari anak Adam yang sangat disukai oleh Allah swt.

untuk melaksanakan ketaqwaan ini (sebagai konsekuensi dari iman) maka diperlukan ilmu dalam beramal, mengapa ilmu ini sangat dominan peranannya?, karena dengan ilmu maka amalan kita akan sempurna sampai kepada Allah swt, sedangkan beramal tanpa ilmu maka amalan kita akan cenderung rusak dan sesat.

Dimanakah kita bisa mendapatkan ilmu akan keimanan dan ketaqwa’an ini?, jawabnya tentu saja dalam Al Qur’an yang diterangkan oleh Rosullullah Muhammad saw. seperti yang sebelumnya saya telah ungkapkan diatas.

Apakah esensinya ilmu ini?,

dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.(QS Al Hajj ayat 54)

Allah swt menjelaskan bahwa dengan ilmu maka manusia akan menyakini bahwa Al Qur’an inilah satu-satunya yang hak dari Allah swt sehingga kita akan mampu untuk beriman (mengenal-menyaksikan) Allah swt melalui tuntunan yang telah ada dalam Al Qur’an, dengan syarat bahwa hati kita dapat tunduk kepada Al Qur’an sehinga Allah akan memberikan pada hati kita petunjuk dari Nya kepada kita akan jalan Allah swt yang lurus dan agar Allah memberi kita kemampuan dan kekuatan untuk dapat melangkah pada jalan yang lurus tersebut.

karena itu, wahai jiwaku marilah kita kembali pada jalan yang lurus tersebut dengan kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah Rosul saw.

Maka disaat Allah memampukan diri kita untuk menempuh jalan yang lurus tersebut maka akan terbuktilah firman Allah swt berikut ini,

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.)QS Al Hujurat ayat 15)

dengan kekuatan dari Allah swt maka kita akan mampu untuk melakukan JIHAD dengan harta dan jiwa kita pada jaln Allah swt, dan tidak ada keragu-raguan sedikitpun atas langkah kita tersebut.

tentang JIHAD ini mohon tidak dimaknai dengan sempitnya pemahaman pikiran bahwa JIHAD ini adalah harus melakukan perang/perlawanan secara fisik kepada kaum kafir.

Memang pada dasarnya Jihad adalah berperang melawan kebatilan, dan kebatilan itu bukan hanya terletak pada kaum kafir tapi kebatilan yang besar adalah pada takluknya dirimu terhadap hawa nafsumu.

Categories: ILMU Tag: