Arsip

Posts Tagged ‘mahamuni’

Tombo Ati (bait ke-empat) Pelengkap

Tulisan ini saya tambahkan sebagai protes :) kritikan dari sahabat saya tentang awal tulisan tombo ati bait ke-empat, sahabat saya menambahkan bahwasanya tirakat dan puasa itu bukan sekedar menahan makan dan minum saja, tapi intinya adalah menahan semua hawa nafsu, dalam bentuk emosi amarah, dengki, menahan syhawat dari mata dsb.

Tepat sekali apa yang telah diungkapkan oleh teman saya tersebut, bahwa tirakat dan puasa bukan sekedar menahan lapar dan dahaga saja, tapi juga menahan nafsu yang bisa merusak hati kita.

Bila puasa dan atau tirakat tersebut tidak mampu untuk menahan hawa nafsu maka puasa dan tirakatnya nilainya percuma saja, seperti sabda Rosul saw bahwasanya banyak sekali yang berpuasa tapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja, tentu saja kita tidak inginkan ini terjadi pada diri kita bukan?

Sebenarnya dalam tulisan di artikel awal, dipertengahan saya sempat menyigungnya sedikit,ya mungkin tidak terlihat bila tidak seksama melihatnya sekali lagi, namun saya akan mengulanginya kembali dengan tambahan apa yang telah sahabat saya sampaikan sebelumnya.

Nafsu menjerumuskan Nafs kita dalam kefasikan (kehancuran) pada awal mulanya nafsu akan menyerang hati kita, karena nafsu seperti setan dia ada dalam peredaran darah manusia, maka nafsu merasuk keseluruh tubuh manusia dan memakai beberapa atribut jasad sebagai alat pemuasnya.

seperti mata melihat hal-hal yang haram untuk dilihat, tapi nafsu berhasil membujuk mata untuk melihatnya dan menyampaikan bisikan (kefasikan) pada otak bahwa itu adalah indah dan seksi, maka otak mengafirmasi apa yang dilihat mata tersebut dan akan segera mengirimnya kehati, sebenarnya akal-seharusnya peranannya ada didalam sini, saat otak segera memberikan afirmasi ini pada hati akal harusnya menimbangnya terlebih dahulu (bukankah fungsi akal ada 3,ta’qilun, tafakkarun dan tadabbarun) disini berarti posisi akal sebagai entitas batiniah adalah sebagai bos nya otak sebagai entitas jasadiah. Akal harus bisa menimbangnya dengan tepat, oh ya ini benar dan oh ya ini salah, seharusnya begini atau begitu, bukankah dalam Al Qur’an banyak disebutkan “Apakah kamu tidak mengunakan akalmu (ta’qilun) dan disebutkan pula apakah kamu tidak memikirkan (tafakkarun), bila hasil pertimbagan oleh otak ini diloloskan ke hati maka tugas selanjutnya hati adalah memancarkan afirmasi ini, karena hati itu bagaikan cermin dialah yang memancarkan cahaya ataupun kegelapan, dipancarkan kemana dipancarkan kejiwa dan kebagian tubuh lainnya, apabila cahaya yang dipancarkan maka jiwa akan selamat sedang bila kegelapan yang dipancarkan maka jiwa akan sesat.

sedangkan jiwa itu sendiri saat menerima pancaran energi ini seharusnya bila jiwa itu telah cerdas (karena iman) maka dia harusnya menjadi gawang dari pancaran hati, bukankah dia yang dilhamkan oleh Allah dengan jalan ketaqwaan dan kefasikan, maka terserah dia mau menempuh jalan yang mana, tapi semua keputusan jiwa ini tergantung seberapa banyak afirmasi yang disampaikan padanya apakah dia biasa menerima afirmasi cahaya (positif, kebaikan)sehingga menyinari keimanan, ataukah afirmasi negatif (kefasikan) sehingga membunuh bibit pohon iman itu? 

Nafs ini bukan Ruh tapi dia sebagai baju Ruh, sedangkan ruh itu suci dan tersucikan dari segala sifat-sifat duniawi, ruh berasal dari Allah dan secara fitrah ruh mencari tempat kembalinya kembali ke Allah, karena itu jiwa (nafs) ini seringkali merindukan suasana dengan Ilahi.

Tapi mari kita balik kembali pada pokok puasa dan tirakat tadi, bahwa jelalatan-nya mata dan anggota jasad lainnya adalah karena ada energi yang mensuplai si nafsu ini untuk berpolah tingkah, energi tersebut sumbernya ya sama dengan energi bagi anggota tubuh lainnya yakni makanan dan minuman, liahtlah betapa banyak kejahatan terjadi karena perut (baik sebab perut kenyang) lihatlah mereka yang korupsi, ataupun mereka yang suka mabuk didiskotik, mereka yang mencari prostitusi mereka semua yang telah merasakan kenyang tapi mereka tidak bersyukur.

Karena itu awal mula yang paling sederhana adalah membatasi gerak nafsu ini dengan membatasi suplai energi bagi si nafsu, yakni makanan dan minuman. Setelah itu kita tingkatkan dengan belajar menahan gerak pongah si nafsu ini dengan menahan diri dari segala macam perbuatan yang disukai si nafsu diri.

wallahu alam.

Categories: Gending Tag:, , ,

Tombo Ati (Bait ke empat)

Juni 10, 2009 cak mamad 3 komentar

Kaping papat kudu wetheng ingkang luwe

Obat hati yang ke-empat adalah banyak-banyak (sering) untuk tirakat, puasa.

Memang pengertian bait ke empat ini sering kali dibatasi dengan artian berpuasa, tapi sebenarnya pengendalian perut ini tidak hanya dalam artian saat berpuasa, namun esensinya setiap saat.

Baiklah marilah kita uraikan dua perkara tersebut:

Pengendalian Perut (nafsu makan) dalam setiap saat dan keadaan

Seperti sabda dari Rosul saw berkenaan dengan nafsu makan ini, Rosul Muhammad saw mengajarkan pada umatnya untuk makan hanya saat sedang terasa lapar saja, dan memerintahkan untuk berhenti makan sesaat sebelum kita merasa kenyang.

Juga dalam sabda nya yang lain; Cukup bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang punggungnya. (HR. Ath-Thabrani)

Mengapa mengenai masalah makanan tersebut Rosul saw begitu memperhatikan dengan cermat demi kebaikan umatnya (sungguh suatu bentuk kasih sayang Rosul Muhammad saw), karena makanan ini posisinya sebagai bahan bakar bagi tubuh (jasad fisik) dan pada akhirnya juga sebagai bahan pensuplai energi bagi hati (qulb) manusia.

Sedangkan seperti yang telah kita ketahui bahwa hati itu adalah tempat tumbuh berkembangnya POHON IMAN seseorang, seberti dalam sabda beliau bahwa didalam tubuh anak Adam terdapat segumpal daging yang bila ia (daging) itu baik, maka baik semua tingkah laku (prilaku-adab) nya, tapi  bila ia (daging) itu buruk maka buruklah semua perilaku nya, ketahuilah bahwa daging itu adalah HATI (qulb).

Kenapa HATI posisinya menjadi sedemikian penting, dalam satu hadits Qudsi Allah swt berfirman bahwa langit dan bumi tidak mampu menampung diri-Ku tapi Hati seorang mukmin yang mampu menampung diri-Ku.

Hati ini sebagai ladang (media) bagi IMAN seorang mukmin, tanpa media IMAN tak kan mampu tumbuh subur dan memancarkan cahaya-cahaya ilahi kepada RUH manusia yang terdapat dalam NAFS kita. Apabila media tanam tadi tersuplai  oleh energi negatif otomatis pertumbuhan IMAN seseorang akan jalan ditempat bahkan (naudzubillah) bisa mati kering entah kemana. Apabila dalam hati sudah tidak ada lagi pohon Iman maka insyaallah yang tumbuh adalah pohon zarqum yang banyak durinya (makanan bagi penduduk neraka) tapi terbungkus indah dimuka bumi Allah swt.

Karena itu betapa Rosul saw mengingatkan kita supaya hati-hati dan menjaga betul akan nafsu (syhawat) perut kita seperti yang tertera dalam beberapa hadits berikut ini;

Orang yang paling kenyang makan di dunia akan menjadi paling lama lapar pada hari kiamat. (HR. Al Hakim)

Maksudnya ialah orang tersebut kenyang karena ketamakannya maka kelak di kiamat ia akan merasakan lapar yang sangat mencegangkan dan semua orang tak kan ada lagi yang bisa membantu dirinya, semuanya sibuk dengan amalannya yang akan dihitung kelak oleh Allah swt.

Pemenuhan terhadap rasa LAPAR yang berlebihan berakibat buruk bagi kesehatan JASAD dan juga bagi kesehatan JIWA nya, menjadi buruk karena LAPAR ini semakin lama dipenuhi oleh keinginan NAFSU dalam keinginan untuk MAKAN sekenyang-kenyang nya, bila kita makan sekenyang-kenyangnya maka akan mematikan HATI manusia, kenapa karena kebijaksanaan dan ilham dari Allah swt akan hilang seiring dengan matinya hati kita karena memakan kegelapan (energi negatif). Seperti dalam sabda beliau;

Ketamakan menghilangkan kebijaksanaan dari hati para ulama. (HR. Ath-Thabrani)

 Bahkan mengenai asal-usul makanan  tadi ROSUL saw pun mengingatkan kepada umatnya agar hanya rezeki yang halal dan toyiba saja yang dibelanjakan dijalan Allah dan dijalan pemenuhan kebutuhan dirinya dan keluarganya seperti dalam sabda nya ”Tiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram maka api neraka lebih utama membakarnya. (HR. Ath-Thabrani)”.

Makanan yang diperoleh dari hasil kerja yang haram bahkan syubhat sekalipun hanya akan mengantarkan tubuh kita kepada neraka, bahkan menutup jiwa kita untuk dapat kembali kepada haribaan Allah swt, seperti tanda awalnya adalah tertutupnya semua doa yang kita panjatkan.

 Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat hal-hal musyabbihat (syubhat / samar, tidak jelas halal-haramnya), yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang menjaga hal-hal musyabbihat, maka ia telah membersihkan kehormatan dan agamanya. Dan, barangsiapa yang terjerumus dalam syubhat, maka ia seperti penggembala di sekitar tanah larangan, hampir-hampir ia terjerumus ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai tanah larangan, dan ketahuilah sesungguhnya tanah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekerat daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah hati.” (HR. Bukhari)

Sesungguhnya Allah baik dan tidak mengabulkan (menerima) kecuali yang baik-baik. Allah menyuruh orang mukmin sebagaimana Dia menyuruh kepada para rasul, seperti firmanNya dalam surat Al Mukminun ayat 52: “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan-makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang shaleh.” Allah juga berfirman dalam surat Al Baqarah 172: “Hai orang-orang yang beriman makanlah di antara rezeki yang baik-baik.” Kemudian Rasulullah menyebut seorang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan wajahnya kotor penuh debu menadahkan tangannya ke langit seraya berseru: “Ya Robbku, Ya Robbku”, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dia diberi makan dari yang haram pula. Jika begitu bagaimana Allah akan mengabulkan doanya? (HR. Muslim)

Wahai Sa’ad, perbaikilah (murnikanlah) makananmu, niscaya kamu menjadi orang yang terkabul do’anya. Demi yang jiwa Muhammad dalam genggamanNya. Sesungguhnya seorang hamba melontarkan sesuap makanan yang haram ke dalam perutnya maka tidak akan diterima amal kebaikannya selama empat puluh hari. Siapapun yang dagingnya tumbuh dari yang haram maka api neraka lebih layak membakarnya. (HR. Ath-Thabrani)

Disamping itu dengan memperbanyak tirakat ini (menahan hawa nafsu perut) maka hati kita akan mudah menerima getaran resonasi dari Allah swt, hati kita akan menjadi halus dan mudah tersentuh dalam bahasa keren-nya saat ini hal tersebut adalah social awareness (kepekaan terhadap lingkungan bertambah karena empatinya terhadap sesama semakin terasah).

Arti kedua dari bait ke-empat itu sendiri adalah memang berarti memperbanyak puasa, inti dari berpuasa tak lain adalah mengasah empati kita (dengan syukur) dan mengasah kesabaran kita dalam menjaga segala aktivitas Jasad dan Ruhani saat berpuasa.

 

Iman terbagi dua, separo dalam sabar dan separo dalam syukur. (HR. Al-Baihaqi)

Sedangkan ibadah puasa menghimpun keduanya menjadi satu kesatuan. Puasa adalah ibadah Dhohir dan Hati menjadi satu kesatuan ujian sekaligus, coba kita tengok hadits berikut ini;

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengerjakannya serta berlaku bodoh, maka tidak ada keperluan bagi Allah untuk meninggalkan makanan dan minumannya.” Riwayat Bukhari dan Abu Dawud. Lafadznya menurut riwayat Abu Dawud.

Meninggalkan perkataan dusta dan pekerjaan yang sia-sia adalah pekerjaan hati, sedangkan meninggalkan makanan dan minuman adalah pekerjaan dhohir kita waktu kita berpuasa.

Lalu Apakah bagian balasan bagi orang yang berpuasa?

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw: bersabda : Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Setiap amal anak Adam itu baginya selain puasa, sesungguhnya puasa itu bagiKu, dan Aku membalasnya. Puasa itu perisai. Apabila salah seorang di antaramu berpuasa pada suatu hari maka janganlah berkata keji dan jangan teriak-teriak pada hari itu. Jika salah seorang memakimu atau melawanmu maka katakanlah : “Sesungguhnya saya sedang berpuasa. Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tanganNya, sungguh bau busuknya mulut orang yang berpuasa itu lebih harum disisi Allah pada hari Qiyamat dari pada bau kasturi. Orang yang berpuasa itu mendapat dua kesenangan yang dinikmatinya yaitu apabila ia berbuka, maka senang karena bukanya dan apabila bertemu dengan Tuhannya, maka ia senang karena puasanya. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).

Dari Abi Said al Khudri ra., ia berkata : Nabi saw. bersabda : Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi bertirman : “Puasa itu bagiKu dan Aku mem­balasnya. Orang yang berpuasa itu mendapat dua kegembiraan, yaitu apabila ia berbuka maka bergembira dan apabila bertemu Tuhannya dan Tuhan memberinya balasan, maka ia bergembira. Demi Dzat vang jiwa Muhammad di-tanganNya, sungguh bau busuknya mulut orang yang berpuasa itu disisi Allah lebih harum daripada bau kasturi.

Dalam menjaga makanan ini baik itu lewat cara berpuasa atau memang dengan mengendalikan nya maka ini adalah salah satu keutamaan yang menakjubkan. Saat kita mampu mengendalikan perut kita, memang pada awalnya kita akan terasa lemas dan pusing secara alamiah ini normal bagi jasad kita, biarkan dengan rasa awal lemas dan pusing ini sedikit demi sedikit menyurutkan kepongahan hwa nafsu kita, hawa nafsu akan ikut lemas tidak ada tenaganya karena jasad diajak berpuasa, sehingga pada akhirnya nafsu ini akan nurut pada kita dan mau diajak ibadah menjadi nafsu muthaminah (gabungan antara jiwa (nafsa) dengan nafsu yang terkendali dibawah cahaya iman) – jiwa yang tenang. Pengendalian ini hakikatnya adalah sebuah proses pembelajaran bagi kita dalam ilmu syukur dan sabar.

Peliharalah (perintah dan larangan) Allah, niscaya kamu akan selalu merasakan kehadiran-Nya. Kenalilah Allah waktu kamu senang, niscaya Allah akan mengenalimu waktu kamu dalam kesulitan. Ketahuilah, apa yang luput dari kamu adalah sesuatu yang pasti tidak mengenaimu dan apa yang akan mengenaimu pasti tidak akan meleset dari kamu. Kemenangan (keberhasilan) hanya dapat dicapai dengan kesabaran. Kelonggaran bersamaan dengan kesusahan dan datangnya kesulitan bersamaan dengan kemudahan. (HR. Tirmidzi)

Tiada lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tiada lurus hatinya sehingga lurus lidahnya. (HR. Ahmad)

Orang yang cerdik ialah orang yang dapat menaklukkan nafsunya dan beramal untuk bekal sesudah wafat. Orang yang lemah ialah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan muluk terhadap Allah. (HR. Abu Dawud)

Dari Anas bin Malik, ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya Allah berfirman : “Apabila Aku menguji hambaku dengan kedua  kesayangannya lalu ia bersabar maka Aku menggantikannya dengan sorga”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Tombo ati (bait ketiga)

Mei 31, 2009 cak mamad 6 komentar

Kaping telu, wong kang soleh kencanana

Mengapa Harus Mencari teman Orang yang soleh?

Dalam Sebuah Hadits Rosul saw menjelaskan bahwa kita bisa mengetahui watak baik-buruknya seseorang itu dari siapa dia bergaul dalam kesehariannya. Dalam satu riwayat yang lain Rosul saw menjelaskan bahwa Kawan pendamping yang sholeh ibarat penjual minyak wangi. Bila dia tidak memberimu minyak wangi, kamu akan mencium keharumannya. Sedangkan kawan pendamping yang buruk ibarat tukang pandai besi. Bila kamu tidak terjilat apinya, kamu akan terkena asapnya. (HR. Bukhari). Insyaallah apabila kita mempunyai kawan yang soleh, paling tidak kita akan ikut merasakan aura positif dari kawan kita tersebut sehingga saat kita hendak melakukan kebajikan insyaallah akan dimudahkan jalan nya oleh Allah swt. Sedangkan apabila kita memilih teman pendamping adalah seorang yang urakan dan tidak pernah sama sekali dalam hatinya sekalipun mengingat pada Allah, niscaya bisa-bisa diri kita ikut terjun kedalam kemaksiatan tersebut apabila kita tidak memiliki kekuatan iman yang sangat kuat dan Allah meridhoi diri kita.

Disisi yang lain bait ini sebenarnya bukan hanya berarti kita dianjurkan untuk bersahabat dan berkawan kepada orang-orang yang saleh saja, tetapi sebenarnya ini adalah anjuran untuk kita berkumpul dalam satu majelis Allah dan mencari ilmu tentang  Allah (maksudnya semua disiplin ilmu yang berfaedah buat wasilah kita dalam mendekatkan diri menjadi kekasih Allah swt).

Ilmu itu ibarat pelita yang akan menerangi iman anda yang ada di dalam dada. Karena jauh didalam dada tersebut, selain hati di dalamnya penuh juga dengan potensi-potensi lain nya yang Allah berikan kepada kita sebagai ujian dan sekaligus sebagai wahana untuk mendekatkan diri kita kepada Allah swt. Mustahil tanpa ilmu kita bisa sampai kepada Allah swt.

Sedangkan ilmu itu ada dalam majelis-majelis mulia milik Allah swt, dalam satu riwayatnya Rosul Muhammad saw bersabda bahwa Apabila kamu melewati taman-taman surga, minumlah hingga puas. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud taman-taman surga itu?” Nabi Saw menjawab, “Majelis-majelis taklim.” (HR. Ath-Thabrani).

Lalu kenapa saat kita berada dalam majelis ilmu Nya Allah swt (yang sebenarnya majelis) hati kita bisa jadi adem, tenang rasanya? Hati ini sebenarnya memiliki frekwensi pancaran yang sama, saat kita berkumpul dalam majelis taklim, insyaallah mereka yang hadir disana adalah para kekasih Allah, yang ahli ibadah dan yang ahli dzikir, sehingga benih iman mereka telah tumbuh kuat menjadi pohon iman, dan bunga-bunga pohon iman tersebut telah bermekaran sehingga meniupkan semerbak harum aroma surga, harum aroma surga ini ibarat muatan positif yang akan dipancarkan kembali oleh hati orang mukmin tersebut kepada hati kita, bukankah Allah yang memersatukan hati orang-orang yang mukmin menjadi satu, “Dan Dia yang mempersatukan hati mereka (mukminin), ….” q.s Al Anfal ayat 63. Dalam ayat yang lain Allah menjelaskan kepada kita bahwa, “sesungguhnya, orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (al Hujurat [49] ayat 10).

Maka dari itu sedapat mungkin kita bisa luangkan waktu untuk dapat berkumpul dalam majelis Allah, mereka itu adalah Jama’ah milik Allah swt, Allah sendirilah yang akan menjaga jama’ah Nya. Dalam riwayat oleh at-Tirmidzi (diriwayatkan sebagai hadist gharib) Rosul saw bersabda, Tangan Allah bersama Jamaah, Barangsiapa menyempal (keluar) maka dia menyempal (keluar) ke neraka.

Lalu majelis (jamaah) yang manakah yang harus saya ikuti? Anda semua adalah jamaah ini, selama anda berada dalam majelis ilmu yang berpegang teguh pada tuntunan Rosul Muhammd saw yaitu sesuai dengan Al Quran dan Sunnah Rosul saw. Silahkan mau gabung dengan majelis atau pengajian manasaja silahkan insyaallah anda adalah dalam barisan jamaah ini, inilah yang disebut dengan ahlul sunnah waljamaah.

Insyaallah semua adalah benar dan baik membawa kita menuju pada Allah melalui dimensi ilmunya masing-masing yang telah dikuasai oleh masing-masing majelis ilmu tersebut. Insyaallah tidak akan ada yang tersesat dan masuk kedalam neraka selama masih Al Quran dan Sunah Rosul saw yang dijadikan prinsip dasar pengembangan dimensi ilmu dalam majelis tersebut.

Lalu bagaimanakah dengan keadaan saat ini yang tengah terjadi bahwa semua mengaku benar dan saling serang antara majelis yang satu dengan yang lainnya. Apakah mereka tetap termasuk dalam jamaah Allah? Insyaallah jawabnya tidak, dan semoga Allah memperbaiki sikap mereka apabila tidak mau semoga Allah melaknat mereka yang suka dengan perpecah belahan.

Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, barang siapa membantu keperluan saudaranya maka Allah akan membantu keperluannya (hadits riwayat ibnu umar) karena itu bila disebutkan bahwa kita itu adalah saudara akankah kita mencaci maki saudara kita yang lain? “Demi yang diriku berada di tangan-Nya, tidaklah kalian akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman sehingga kalian saling mencintai, Maukah aku tunjukan kepada kalian akan sesuatu yang jika kalian lakukan pasti kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah Salam diantara kalian”. Salam adalah perdamaian karena itu bukanlah termasuk orang yang menebarkan salam adalah orang yang gampang memfonis saudaranya itu Bid’ah ataupun Kafir.

…….dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.(Ar Rum ayat 31-32)

Janganlah kalian berselisih karena orang-orang sebelum kaian hancur karena mereka berselisih.

Orang mukmin bagi orang mukmin yang lain adalah seperti bangunan yang saling menguatkan, “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”

Karena itu carilah ilmu dalam majelis Allah (kumpulono wong kang soleh iku) tanpa anda harus mengangap bahwa majelis andalah yang paling utama dari semua majelis yang ada, karena bila itu yang terjadi maka gugurlah ilmu yang anda miliki semuanya dan siap-siaplah dengan adzab Allah di neraka.

Semoga Allah Azza Wajalla menjaga dan memperbaiki akhlak kita

Categories: Gending Tag:, ,

Tombo Ati (bait ke-2)

Mei 24, 2009 cak mamad 7 komentar

Kaping pindo, sholat wengi lakonana

Mengapa harus shalat malam mesti dikerjakan?

dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah).

Sabda Nabi saw:

“Hendaklah engkau memperbanyak sujud”

Saat terdekat seorang hamba dengan Rabb nya adalah saat-saat dalam sujud, inilah saat yang paling bahagia dan mulia bagi seorang mukmin. Bila seorang mukmin telah berada dekat dengan Rabb nya maka adakah kembali segala kekawatiran dalam hatinya? Tentu saja tidak akan ada rasa takut dan khawatir karena dia berada dalam jaminan Rabb nya.

Saat dalam sujud ini tentu saja akan paling banyak kita temukan saat kita mengerjakan tuntunan shalat tahajud, dalam Asroul Islam diisyaratkan:

“Langgengkan mengerjakan shalat malam (tahajud), karena sesungguhnya pertolongan Allah beserta shalat malam (tahajud).”

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.

Tegakanlah sholat malam (tahajud), karena didalam sholat malam (tahajud) kita akan mendapatkan Mahqoman Makhmuda.

Maqoman Makhmuda ini dalam perwujudannya pada amalan keseharian kita berfungsi melapangkan dada kita (belajar mendapatkan ihlas), dalam artian apabila kita memperjuangkan sesuatu yang kita harapkan, berhasil atau tidak, kita tidak akan mengalami kesedihan yang mendalam atau kebanggaan yang banyak yang dapat menumbuhkan sikap sombong, sifat demikian sangat berpengaruh besar pada potensi-potensi (dalam anatomi tubuh saya menyebutnya sebagai gadget) yang ada dalam wawasan hati dan kekuatan iman.

Disamping itu jika memperhatikan dalam firman Allah swt dalam surat Al Muzzamil

Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.

Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan

Mengandung beberapa artian antara lain ;

Bangun Shalat Tahajud akan memiliki kekuatan jiwa yang melebihi kekuatan-kekuatan yang ada dan tangkas berbicara.

Dalam artian yang lain adalah, dalam shalat tahajud Allah swt akan lebih banyak menurunkan ilmunya dalam pemahaman akan ayat-ayat Nya (hikmah) sehingga dengan modal ini kita dapat mengali lebih dalam maksud ayat-ayat Al Qur’an dan mengaplikasikan dalam kehidupan keseharian.

Kekuatan jiwa yang kita peroleh sebagai hasil dari sholat malam yang kita kerjakan merupakan potensi yang akan menetap dalam wawasan hati yang berfungsi untuk menangkal virus-virus hati yang mungkin terjadi.

Categories: Gending Tag:, ,

Tombo Ati

Pernah dengar tembang (lagu) ini khan?

Tamba ati iku lima sak warnane
Maca Qur’an angen-angen sak maknane
Kaping pindo, sholat wengi lakonana
Kaping telu, wong kang soleh kencanana
Kaping papat kudu wetheng ingkang luwe
Kaping lima dzikir wengi ingkang suwe

Saya yakin kalau semua pasti pernah mendengarkan, tembang ini dibuat oleh Sunan Bonang atau dikenal juga dengan Maulana Makdum (cendekiawan islam) beliau mengunakan tembang ini (dengan diiringi oleh suara gamelan) sebagai alat untuk berdakwah menyampaikan risalah islam kepada masyarakat sekitarnya karena itu beliau dikenal juga dengan julukan Sang Mahamuni.

Namun terlepas dari riwayat itu semua, sungguh dalam tembang ini terdapat nasehat yang sangat mulia untuk menghapuskan rasa gundah dan sesak sempit dalam dada (hati) manusia. Untuk itu marilah coba kita uraikan makna tembang ini satu persatu :

Disaat hati kita terasa sakit sempit maka ikutilah lima nasehat ini untuk membuatnya lapang kembali,

1.      Bacalah Al Qur’an dan maknanya

Maksudnya bukan sekedar membaca saja huruf arab dan artinya dalam bahasa indonesia, tapi bacalah dahulu secara tartil dan tuma’ninah (pelan-pelan sehingga bacaan itu dapat terdengar indah dan terserap maknanya)

 Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya

 Maksud dari ayat ini adalah membacanya dengan tenang, tuma’ninah dan tartil sehingga manfaat dari Qur’an dapat terserap oleh hatimu

 Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat

Dan begitu pula apabila ada salah seorang dari jama’ah kita membacakan ayat-ayat suci Al Qur’an maka diamlah sejenak, dengarkan lantunan indah nya, serapi coba pahami isinya yang terkandung didalamnya, jangan malah kita berlomba-lomba saling membaca sampai khatam beramai-ramai sehingga seperti suara lebah yang berdengung, sungguh bukan begitu saudaraku. Biarkan salah seorang dari kita membacanya secara bergantian agar kita mendapatkan rahmat dari Allah swt. 

 Dalam bentuk apakah Rahmat dari Allah swt ini?

Rahmat dari Allah swt sungguh sangat bermacam-macam jenisnya dan salah satu diantaranya adalah penguasaan terhadap ilmu hikmah. 

 Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” 

Inilah dasar kepada kita dalam mempelajari ilmu hikmah yang terkandung dalam Al Qur’an itu, dasar yang pertama tadi adalah sikap tenang, tidak buru-buru (karena buru-buru adalah sifat setan) dan memahami makna kandungannya dengan doa yang Allah ajarkan diatas, Ya Allah tambahkan padaku ilmu pengetahuan. Dan agar ilmu pengetahuan itu sampai pada kita maka sebelum membaca ayat-ayat Al Qur’an (agar hikmah ini sampai) maka berdoalah pada Allah dari godaan setan yang terkutuk, Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.

 Untuk mendapatkan ilmu ini dibutuhkan satu persyaratan kembali yakni memahaminya dengan mengunakan karunia akal (pikiran) yang telah Allah berikan kepada manusia – tafakurlah.

 Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

 Karena dalam Al qur’an ini ada petunjuk bagi diri manusia (Inilah ayat-ayat Al Quran yang menerangkan. ) untuk mencapai rahmat Allah swt, dan didalamnya terdapat contoh-contoh perumpamaan (takwil) bagi  manusia untuk diambil pelajarannya, karena itulah diperlukan pemahaman mendalam dengan bertafakur menggunakan akal kita.

Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Quran ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari (nya).

Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.

 Al Qur’an ini adalah merupakan petunjuk dan rahmat bagi manusia asalkan kita mau menerima ayat-ayat yang disampaikan ini dengan rasa khusu’ dan tawadhu’, dengan kerendahan hati bukan dengan mengikarinya dan bukan pula dengan sikap terlalu banyak membantah.

 Karena itu apabila hati kita gundah gelisah maka bacalah Al Qur’an, pahami resapi dan amalkan inilah dzikir sejati itu.

 Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa

 Lalu mengapa kita masih ragu unutk kembali kepada Al Qur’an dalam setiap nafas kehidupan kita?

 Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.

 Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian[421] terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

 Maka apabila kita terus berpaling dari Al Qur’an dan menuhankan hawa nafsu kita maka,

 dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.

 Inilah obat hati itu, yaitu obat (shifa) penawar bagi orang-orang yang beriman 

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.

 (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. 

Kecuali apabila mata, telinga dan hati anda telah buta, tuli dan tertutup maka obat hati ini menjadi laknat bagi anda

 Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh.”  

Insyaallah akan bersambung untuk pembahasan berikutnya.

Categories: Gending Tag:, ,