Kaping papat kudu wetheng ingkang luwe
Obat hati yang ke-empat adalah banyak-banyak (sering) untuk tirakat, puasa.
Memang pengertian bait ke empat ini sering kali dibatasi dengan artian berpuasa, tapi sebenarnya pengendalian perut ini tidak hanya dalam artian saat berpuasa, namun esensinya setiap saat.
Baiklah marilah kita uraikan dua perkara tersebut:
Pengendalian Perut (nafsu makan) dalam setiap saat dan keadaan
Seperti sabda dari Rosul saw berkenaan dengan nafsu makan ini, Rosul Muhammad saw mengajarkan pada umatnya untuk makan hanya saat sedang terasa lapar saja, dan memerintahkan untuk berhenti makan sesaat sebelum kita merasa kenyang.
Juga dalam sabda nya yang lain; Cukup bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang punggungnya. (HR. Ath-Thabrani)
Mengapa mengenai masalah makanan tersebut Rosul saw begitu memperhatikan dengan cermat demi kebaikan umatnya (sungguh suatu bentuk kasih sayang Rosul Muhammad saw), karena makanan ini posisinya sebagai bahan bakar bagi tubuh (jasad fisik) dan pada akhirnya juga sebagai bahan pensuplai energi bagi hati (qulb) manusia.
Sedangkan seperti yang telah kita ketahui bahwa hati itu adalah tempat tumbuh berkembangnya POHON IMAN seseorang, seberti dalam sabda beliau bahwa didalam tubuh anak Adam terdapat segumpal daging yang bila ia (daging) itu baik, maka baik semua tingkah laku (prilaku-adab) nya, tapi bila ia (daging) itu buruk maka buruklah semua perilaku nya, ketahuilah bahwa daging itu adalah HATI (qulb).
Kenapa HATI posisinya menjadi sedemikian penting, dalam satu hadits Qudsi Allah swt berfirman bahwa langit dan bumi tidak mampu menampung diri-Ku tapi Hati seorang mukmin yang mampu menampung diri-Ku.
Hati ini sebagai ladang (media) bagi IMAN seorang mukmin, tanpa media IMAN tak kan mampu tumbuh subur dan memancarkan cahaya-cahaya ilahi kepada RUH manusia yang terdapat dalam NAFS kita. Apabila media tanam tadi tersuplai oleh energi negatif otomatis pertumbuhan IMAN seseorang akan jalan ditempat bahkan (naudzubillah) bisa mati kering entah kemana. Apabila dalam hati sudah tidak ada lagi pohon Iman maka insyaallah yang tumbuh adalah pohon zarqum yang banyak durinya (makanan bagi penduduk neraka) tapi terbungkus indah dimuka bumi Allah swt.
Karena itu betapa Rosul saw mengingatkan kita supaya hati-hati dan menjaga betul akan nafsu (syhawat) perut kita seperti yang tertera dalam beberapa hadits berikut ini;
Orang yang paling kenyang makan di dunia akan menjadi paling lama lapar pada hari kiamat. (HR. Al Hakim)
Maksudnya ialah orang tersebut kenyang karena ketamakannya maka kelak di kiamat ia akan merasakan lapar yang sangat mencegangkan dan semua orang tak kan ada lagi yang bisa membantu dirinya, semuanya sibuk dengan amalannya yang akan dihitung kelak oleh Allah swt.
Pemenuhan terhadap rasa LAPAR yang berlebihan berakibat buruk bagi kesehatan JASAD dan juga bagi kesehatan JIWA nya, menjadi buruk karena LAPAR ini semakin lama dipenuhi oleh keinginan NAFSU dalam keinginan untuk MAKAN sekenyang-kenyang nya, bila kita makan sekenyang-kenyangnya maka akan mematikan HATI manusia, kenapa karena kebijaksanaan dan ilham dari Allah swt akan hilang seiring dengan matinya hati kita karena memakan kegelapan (energi negatif). Seperti dalam sabda beliau;
Ketamakan menghilangkan kebijaksanaan dari hati para ulama. (HR. Ath-Thabrani)
Bahkan mengenai asal-usul makanan tadi ROSUL saw pun mengingatkan kepada umatnya agar hanya rezeki yang halal dan toyiba saja yang dibelanjakan dijalan Allah dan dijalan pemenuhan kebutuhan dirinya dan keluarganya seperti dalam sabda nya ”Tiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram maka api neraka lebih utama membakarnya. (HR. Ath-Thabrani)”.
Makanan yang diperoleh dari hasil kerja yang haram bahkan syubhat sekalipun hanya akan mengantarkan tubuh kita kepada neraka, bahkan menutup jiwa kita untuk dapat kembali kepada haribaan Allah swt, seperti tanda awalnya adalah tertutupnya semua doa yang kita panjatkan.
Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat hal-hal musyabbihat (syubhat / samar, tidak jelas halal-haramnya), yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang menjaga hal-hal musyabbihat, maka ia telah membersihkan kehormatan dan agamanya. Dan, barangsiapa yang terjerumus dalam syubhat, maka ia seperti penggembala di sekitar tanah larangan, hampir-hampir ia terjerumus ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai tanah larangan, dan ketahuilah sesungguhnya tanah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekerat daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah hati.” (HR. Bukhari)
Sesungguhnya Allah baik dan tidak mengabulkan (menerima) kecuali yang baik-baik. Allah menyuruh orang mukmin sebagaimana Dia menyuruh kepada para rasul, seperti firmanNya dalam surat Al Mukminun ayat 52: “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan-makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang shaleh.” Allah juga berfirman dalam surat Al Baqarah 172: “Hai orang-orang yang beriman makanlah di antara rezeki yang baik-baik.” Kemudian Rasulullah menyebut seorang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan wajahnya kotor penuh debu menadahkan tangannya ke langit seraya berseru: “Ya Robbku, Ya Robbku”, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dia diberi makan dari yang haram pula. Jika begitu bagaimana Allah akan mengabulkan doanya? (HR. Muslim)
Wahai Sa’ad, perbaikilah (murnikanlah) makananmu, niscaya kamu menjadi orang yang terkabul do’anya. Demi yang jiwa Muhammad dalam genggamanNya. Sesungguhnya seorang hamba melontarkan sesuap makanan yang haram ke dalam perutnya maka tidak akan diterima amal kebaikannya selama empat puluh hari. Siapapun yang dagingnya tumbuh dari yang haram maka api neraka lebih layak membakarnya. (HR. Ath-Thabrani)
Disamping itu dengan memperbanyak tirakat ini (menahan hawa nafsu perut) maka hati kita akan mudah menerima getaran resonasi dari Allah swt, hati kita akan menjadi halus dan mudah tersentuh dalam bahasa keren-nya saat ini hal tersebut adalah social awareness (kepekaan terhadap lingkungan bertambah karena empatinya terhadap sesama semakin terasah).
Arti kedua dari bait ke-empat itu sendiri adalah memang berarti memperbanyak puasa, inti dari berpuasa tak lain adalah mengasah empati kita (dengan syukur) dan mengasah kesabaran kita dalam menjaga segala aktivitas Jasad dan Ruhani saat berpuasa.
Iman terbagi dua, separo dalam sabar dan separo dalam syukur. (HR. Al-Baihaqi)
Sedangkan ibadah puasa menghimpun keduanya menjadi satu kesatuan. Puasa adalah ibadah Dhohir dan Hati menjadi satu kesatuan ujian sekaligus, coba kita tengok hadits berikut ini;
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengerjakannya serta berlaku bodoh, maka tidak ada keperluan bagi Allah untuk meninggalkan makanan dan minumannya.” Riwayat Bukhari dan Abu Dawud. Lafadznya menurut riwayat Abu Dawud.
Meninggalkan perkataan dusta dan pekerjaan yang sia-sia adalah pekerjaan hati, sedangkan meninggalkan makanan dan minuman adalah pekerjaan dhohir kita waktu kita berpuasa.
Lalu Apakah bagian balasan bagi orang yang berpuasa?
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw: bersabda : Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Setiap amal anak Adam itu baginya selain puasa, sesungguhnya puasa itu bagiKu, dan Aku membalasnya. Puasa itu perisai. Apabila salah seorang di antaramu berpuasa pada suatu hari maka janganlah berkata keji dan jangan teriak-teriak pada hari itu. Jika salah seorang memakimu atau melawanmu maka katakanlah : “Sesungguhnya saya sedang berpuasa. Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tanganNya, sungguh bau busuknya mulut orang yang berpuasa itu lebih harum disisi Allah pada hari Qiyamat dari pada bau kasturi. Orang yang berpuasa itu mendapat dua kesenangan yang dinikmatinya yaitu apabila ia berbuka, maka senang karena bukanya dan apabila bertemu dengan Tuhannya, maka ia senang karena puasanya. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).
Dari Abi Said al Khudri ra., ia berkata : Nabi saw. bersabda : Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi bertirman : “Puasa itu bagiKu dan Aku membalasnya. Orang yang berpuasa itu mendapat dua kegembiraan, yaitu apabila ia berbuka maka bergembira dan apabila bertemu Tuhannya dan Tuhan memberinya balasan, maka ia bergembira. Demi Dzat vang jiwa Muhammad di-tanganNya, sungguh bau busuknya mulut orang yang berpuasa itu disisi Allah lebih harum daripada bau kasturi.
Dalam menjaga makanan ini baik itu lewat cara berpuasa atau memang dengan mengendalikan nya maka ini adalah salah satu keutamaan yang menakjubkan. Saat kita mampu mengendalikan perut kita, memang pada awalnya kita akan terasa lemas dan pusing secara alamiah ini normal bagi jasad kita, biarkan dengan rasa awal lemas dan pusing ini sedikit demi sedikit menyurutkan kepongahan hwa nafsu kita, hawa nafsu akan ikut lemas tidak ada tenaganya karena jasad diajak berpuasa, sehingga pada akhirnya nafsu ini akan nurut pada kita dan mau diajak ibadah menjadi nafsu muthaminah (gabungan antara jiwa (nafsa) dengan nafsu yang terkendali dibawah cahaya iman) – jiwa yang tenang. Pengendalian ini hakikatnya adalah sebuah proses pembelajaran bagi kita dalam ilmu syukur dan sabar.
Peliharalah (perintah dan larangan) Allah, niscaya kamu akan selalu merasakan kehadiran-Nya. Kenalilah Allah waktu kamu senang, niscaya Allah akan mengenalimu waktu kamu dalam kesulitan. Ketahuilah, apa yang luput dari kamu adalah sesuatu yang pasti tidak mengenaimu dan apa yang akan mengenaimu pasti tidak akan meleset dari kamu. Kemenangan (keberhasilan) hanya dapat dicapai dengan kesabaran. Kelonggaran bersamaan dengan kesusahan dan datangnya kesulitan bersamaan dengan kemudahan. (HR. Tirmidzi)
Tiada lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tiada lurus hatinya sehingga lurus lidahnya. (HR. Ahmad)
Orang yang cerdik ialah orang yang dapat menaklukkan nafsunya dan beramal untuk bekal sesudah wafat. Orang yang lemah ialah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan muluk terhadap Allah. (HR. Abu Dawud)
Dari Anas bin Malik, ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya Allah berfirman : “Apabila Aku menguji hambaku dengan kedua kesayangannya lalu ia bersabar maka Aku menggantikannya dengan sorga”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
DISKUSI KITA