Tak Perlu Mengatur Semua Urusan Dunia

Syekh Ibnu Atthaillah dalaml hikam nya berpesan; “Istirahatkanlah dirimu dari melakukan tabdir (mengatur urusan dunia) dengan susah payah. Karena, sesuatu yang telah diurus untukmu oleh selain dirimu (maksudnya diurus oleh Allah), tidak perlu engkau turut mengurusnya.”

Sebetulnya sejak zaman azali dahulu semua takdir telah dituliskan. Janji Allah adalah benar, bahwa Dia yang menciptakan dan Dia pulalah yang memelihara (mencukupi kebutuhan) mahkluk yang telah Dia ciptakan.

Dalam satu ayat Allah swt berfirman; “katakanlah Aku yang memberi rezeki dan Aku tak butuh untuk diberi rezeki.”

Burung emprit tiap pagi bangun dengan keadaan lapar namun Allah pelihara mereka setiap hari, hingga sore tiba mereka pulang dalam sarangnya dengan keadaan kenyang.

Namun apakah ini berarti Allah inginkan kita diam saja berleha-leha dirumah tanpa harus bekerja?

Tentu saja tidak.

Dalam ayat yang lain Allah swt berfirman bahwa Dia tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka berubah.

Lalu apa maksud hikam tersebut di atas?

Sebenarnya untuk apakah diciptakan jin dan manusia itu?

Bukankah Allah swt berfirman “dan tidaklah Kami ciptakan jin dan manusia itu kecuali untuk beribadah (menyenbah) pada Allah.

Jadi jelas sebenarnya taklid manusia (tugas utama) adalah untuk beribadah / menyembah Allah swt.

Semua rangkaian aktivitas kehidupan kita adalah untuk menyembah / beribadah / mengabdi hanya pada Allah swt.

Jikalau semua aktivitas kehidupan adalah hanya untuk menyembah / beribadah pada Allah maka kapan kita bekerjanya?

Disinilah letak rahasia sabda RasululLah Muhammad saw bahwa sesungguhnya setiap amal perbuatan adalah bergantung pada niat yang mengawalinya.

Jika saja setiap mengawali hari kita sadari hal ini maka insya Allah setiap pekerjaan / perbuatan yang kita lakukan sebenarnya akan bernilai sebagai ibadah.

Semua aktivitas menjadi rangkaian ibadah karena awal yang baik dan benar. Berdirinya kita, duduknya kita, tidurnya kita, diam dan geraknya diri kita menjadi dzikir kepada Allah.

Nafs melalui cermin hati melihat pada Rabb nya hingga tiap saat nafs tersadar bahwa ia adalah milik Nya.

Rezeki tidak bergantung pada usaha kita namun Allah menginginkan kita untuk mengolah bumi Nya sebagai rangkaian ibadah pada Nya.

Jaminan Nya telah pasti, rezeki telah dibagi.

Wahai nafs ku tenangkanlah dirimu tak perlu kamu risau dengan putusan Tuhanmu. Diamlah, ingatlah Allah dan lepaskanlah diri kita dari belenggu keragu raguan. Tengelanlah dalam dzikir pada Rabbmu.

image

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

  • Hubungi Saya

    silahkan hubungi saya di alamat email ini: ahmad3mail@gmail.com
  • Cak_mamad tweet

  • Anda adalah pengunjung ke

    • 15,943 terimakasih atas silahturahmi-nya
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 35 pengikut lainnya.