Review puasa
Setahun lalu saya menulis puasa (poso) adalah ngepos’ake roso (menata roso/perasaan).
Manusia itu dibekali Allah dengan roso dan rasa, roso terikat dengan nafs (jiwa). Roso bersifat subconcius. Ia kerap kali dikenal dengan emosi.
Rasa milik raga, dan ia bersifat concius. Kita mesti dalam keadaan sadar untuk menikmati rasa nikmat kopi. Atau raga kita mesti siap (sadar dan sehat) untuk mampu menikmati kopi ini.
Jika saja nikmat yg ada pada gigi dicabut atau nikmat yg ada pada lidah dihilangkan Allah maka senikmat apapun kopi itu nikmatnya tak akan sampai.
Rasa mengirim stimulus pada otak atas nikmat atau tidak nya suatu keadaan yang dialami raga.
Otak meneruskan stimulus itu pada jiwa (nafs) sehingga terbentuklah roso (emosi) yang merespon keadaan yang dialami tubuh melalui rasa tadi. Respon itu dapat berupa bahagia, amarah atau kesedihan. Menata roso atau emosi memberikan kecerdasan pada jiwa.
Kecerdasan jiwa ini sangat penting untuk dapat mengenal kepada Allah.
Saat proses ngepos’ake roso dapat kita lalui maka tibalah kita menuju tujuan berikutnya tentang puasa.