Menjadi Mutaqin dalam Al Baqarah 2-4
Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat .
Allah SWT menerangkan pada kita tentang kriteria orang yang bertakwa didalam awal pembukaan surat Al Baqarah (2) ayat 2-4 seperti yang telah saya tulis terjemahannya diatas.
Siapakah yang disebut orang yang bertakwa itu?, seorang yang mutaqin adalah ia yang beriman kepada yang ghaib. Apakah yang ghaib yang dimaksud dalam ayat ini?, dahulu saya sangka maksud Allah yang ghaib dalam ayat ini adalah Dzat-Nya namun ternyata tidak.
Bagaimana mungkin Allah itu menjadi ghaib sedangkan Dia terang dan sangat terang, tanpa cahaya-Nya maka tak akan ada alam semesta ini. Ibnu Athaillah berpesan dalam kitab Al Hikam; “Al-Haq (Allah) tidak terhijab, tapi engkaulah yang terhalang dari melihat-Nya. Sekiranya Allah terhijab oleh sesuatu, maka sesuatu itu berarti telah menutupi-Nya. Dan bila ada tutup bagi-Nya, maka tentu ada wujud-Nya akan terkurung oleh sesuatu tersebut. Dan sesuatu yang mengurung tentu menguasai yang dikurung, padahal Allah Mahakuasa atas semua hamba-Nya.”
Sesuatu ghaib yang diterangkan oleh Allah dalam surat ini bukanlah akan Dzat-Nya atau eksistensi Diri-Nya, namun merujuk dari penjelasan syekh Ibnu Athaillah sesuatu dikatakan ghaib adalah yang terhijab oleh yang lainnya, dalam pengetahuan kita yang lazim disebut ghaib adalah yang tak kasat mata, seperti jin, malaikat, dsb. namun Allah SWT, Dia tidak pernah menempatkan diri-Nya adalah sebagai sesuatu yang ghaib, yang terhijab dan tertutup dari sesuatu yang lain.
Dalam ayat tersebut diatas, sesuatu yang Allah SWT maksudkan sebagai yang ghaib adalah tentang qodho dan qodhar (ketentuan /nasib/takdir) atas manusia. Allah meliputi atas ketentuan-ketentuan tersebut atas diri setiap manusia.
Mari kita lihat pada penjelasan selanjutnya dari Allah tentang siapakah yang Allah sebut sebagai oarang yang bertakwa; seorang Mutaqin adalah orang yang senantiasa mendirikan shalat maksudnya ia senantiasa setia (istiqomah) menjaga shalat-shalatnya baik itu dalam pelaksanaan waktunya, tingkat ke-khusyuk’annya yang ada dalam shalat wajib maupun sunah.
Lalu ia adalah termasuk seseorang yang istiqomah dalam berderma (beramal)atas setiap rezeki yang telah Allah SWT anugerahkan untuk dirinya sebagai bentuk ungkapan rasa syukurnya kepada Allah SWT. Apa yang ia keluarkan (baik zakat maupun sedekah) bukan lagi karena suatu paksaan dari syariat namun ia melihat yang ia nafkahkan dijalan Allah adalah sesuatu yang sudah ia sepantasnya ia keluarkan atas rahmat yang telah ia terima dari Allah SWT. Bukankah Allah berfirman; Barang siapa bersyukur maka sebenarnya ia bersyukur bagi (kebaikan) dirinya sendiri.
Dan mereka beriman kepada Al Quran dan kitab-kitab yang telah Allah SWT telah turunkan untuk umat yang terdahulu, Iman mereka atas Al Quran telah merasuk kedalam dada dan menjadikan Quran sebagai guidence atas setiap langkah dan tindak-tanduk yang akan dikerjakan, sebagai kunci akhir dari ke-takwa’an ini adalah iman mereka kepada hari akhirat.
Tanpa adanya iman terhadap akhirat maka mungkin kebanyakan manusia akan berbuat semau diri sendiri, ibaratnya kehidupan akhirat adalah jaring pertama dimana disana diceritakan akan adanya kehidupan abadi yang kekal dengan balasan kesenangan ataupun hukuman dari Allah SWT atas tindak-tanduk kita selama didunia. Tanpa adanya akhirat mungkin sebagian manusia akan bertanya-tanya untuk apa ibadah dan ketaatan mereka selama ini didunia, toh taat ataupun membangkang hasilnya sama?, tapi Allah menjawabnya dalam Al Quran dan dalam kitab-kitab terdahulu mengenai adanya alam akhirat dimana kehidupan disana akan abadi sifatnya.
Namun ada satu yang sepertinya hilang / kurang disini (missing link), satu lagi keimanan yang penting yang merupakan kunci seseorang mampu menghadapi ujian maupun cobaan hidup didunia, yaitu ke-imanan kepada qodho dan qodhar, ketetapan dan keputusan Allah tersebut sifatnya ghaib dan ia telah ada dan tersimpan sejak dahulu kala awal penciptaan alam semesta (bahkan sebelum penciptaan manusia) didalam kitab yang nyata “lauhul mafudz”. Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh). Surat 27 ayat 75. Inilah yang sebenarnya yang ghaib yang ingin Allah SWT sampaikan dalam awal surat Al Baqarah ayat 3.
Kenapa Allah menaruh /menekankan sesuatu yang ghaib ini diawal penjelasan yang Dia berikan untuk kriteria seseorang yang bertakwa? wallahu’alam, dan saya pun belum mengetahui akan jawaban pertanyaan saya yang satu ini? semoga Allah berkenan membuka ilmu tentang ini dalam bulan yang penuh rahmat.

ada kesombongan dalam tulisan ini……………….mengakui yang bukan milik ente………………benar salah milik Tuhan ,,,,,,ente cuma dikasih……hehehehe.salam……..salam…..salam
Alhamdulilah ada yang mengingatkan, saya terima masukan anda, namun mohon maaf jika berkenan tolong saya ditunjukan dimanakah letak kesalahan yaitu yang anda sebut sebagai kesombongan dari diri saya?…terimakasih.
Tapi saya bingung? mengakui sesuatu yang bukan milik ente? apakah sesuatu itu….ya ambil sajalah jika anda berkenan atas sesuatu itu, toh memang saya tidak pernah punya apa-apa, semuanya milik Allah, kebenaran milik Allah dan semua kesalahan ya memang milik saya karena khilaf dan kebodohan saya.
terimakasih….walaikumsalam, semoga Allah merahmati anda.
Astagfirulloh hal adhim, terimakasih mas Darno telah mengingatkan jika saya tidak salah tangkap mungkin yang mas Darno maksud ada dalam penggalan kalimat ini;
“Inilah yang sebenarnya yang ghaib yang ingin Allah SWT sampaikan dalam awal surat Al Baqarah ayat 3.”
Ya mungkin lebih tepatnya bila saya sampaikan dengan kata;
“inilah yang saya ketahui dari pemahaman saya tentang arti “sesuatu yang Ghaib” yang Allah maksudkan dalam Surat Al Baqarah ayat 3 diatas, namun semua kebenaran “ilmu” adalah milik Allah, wallahualam.”
(maka tulisan dalam komentar ini saya maksud dan saya tujukan sebagai refisi dalam artikel saya diatas, sengaja kesalahan tersebut tidak saya edit agar dapat menjadi pembelajaran saya dan diketahui pula oleh sahabat-sahabat lainnya)