Menjadi Seorang Yang Profesional


(Qur’an Surat Al Ashr ayat 1-3)

1. Demi masa.

2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Allah bersumpah demi masa yang Dia miliki sendiri, siapakah sebenarnya masa itu?, dalam suatu riwayat hadits Rosullulloh saw. Bersabda, Allah swt berfirman; “Anak Adam berani mencela masa, padahal Akulah masa itu. Aku yang mengilirkan siang dan malam”(HR. Bukhari & Muslim).

Allah swt adalah yang memiliki masa /zaman /waktu sedang kita (manusia) hidup dalam rentang waktu /zaman itu dalam dekapan takdir, sebab diluar waktu yang telah Allah swt tentukan untuk kita kematian telah siap menjemput. Bagaimanapun kita mencoba lari dari kematian namun kematian adalah kepastian yang pasti datang. Sedangkan kehidupan ini adalah rentang waktu antara lahir di alam dunia dan hingga kematian datang menjemput manusia meninggalkan alam dunia. Hidup hanya sementara, seperti orang singgah untuk sekedar meneguk minum disumur yang dingin. Karena itulah dalam rentang waktu yang singkat dan terbatas, maka syukurilah hidup itu sendiri karena dengan menjadikan hidup adalah sebagai karunia.

Allah swt mengajarkan manusia untuk bersyukur pada kenikmatan (menjadi) hidup dengan ayat ini, mari kita lihat bahwa dalam ayat tersebut Allah swt bersumpah dengan waktu, karena dalam rentang waktu segala ketentuan (takdir) Allah terjadi. Allah berfirman, Demi masa (waktu) sesungguhnya kalian (manusia) sedang berada dalam kerugian, ayat tersebut menunjuk manusia secara global (generalisir), manusia seperti apakan yang Allah tunjuk dengan ayat ini? Allah menunjuk mereka yang tak dapat memanfaatkan waktu (hidup dalam rentang waktu) yang telah Allah swt karuniakan untuknya, Allah berfirman bahwa merekalah manusia yang mengalami kerugian.

“Dalam dunia yang penuh gejolak ini, tampaknya kita tidak pernah punya banyak waktu, namun tidak pernah ada waktu yang sedemikian banyak untuk kita. Kita hidup lebih lama, tetapi kita menggunakan sedikit waktu untuk memanfaatkan dan melakukan banyak hal sehingga kita mendapatkan waktu yang lebih efisien, dan dengan demikian mempunyai lebih banyak waktu lagi untuk dipergunakan. Sekalipun begitu, kita telah membuat komoditas aneh ini menjadi senjata keunggulan, dengan menuntut hal ganjil ini dengan kecepatan. Jika kita berlaku bijaksana, tidakkah kita melepas tanda harga yang tertera pada waktu, dan menyempatkan diri untuk berdiri memandangnya? (Charles Handy (1994) The Empty Raincoat, Arrow Business Book UK.)”

Jane smith dalam bukunya “how to be a better time manager” menyebutkan bahwa pengelolaan waktu yang buruk membuat kita frustasi diakhir hari kerja. Usaha untuk tetap sesuai dengan standar kerja disaat kita sudah penat hanya membuat kita stres dan kualitas pekerjaan kita menjadi buruk. Lihatlah betapa kaum barat tengah mempelajari betapa penting dan berharganya arti waktu ini, sedangkan kita? Apakah kita sudah menghargai waktu yang kita miliki?, menurut Jane Smith kemudian, Waktu adalah sumber daya yang bernilai karena tidak dapat diperbaharui; untuk dapat menjadi seorang manajer yang efektif anda harus dapat mengelola waktu dengan baik. Seorang pemikir barat pun tahu betapa berharganya nikmat waktu yang telah Allah swt karuniakan untuk kita, kok kita umat muslimin dan mukminin malah tidak menyadari ini! Dimana malu kita pada Allah swt?

Padahal Allah swt sendiri telah menyindir kita tentang kenikmatan yang satu ini, tapi memang manusia itu selalu penuh alpa dan salah, kita sendiri kadang begitu mensepelekan waktu yang telah Allah swt karuniakan ini. Makanya layaklah jikalau Allah swt bersumpah bahwa demi masa sesungguhnya manusia itu selalu dalam kondisi kerugian, karena apa? Karena suka mensepelekan waktu.

Ingin tahu resepnya biar kita tidak menjadi orang yang merugi?

Seorang muslim (apalagi bila ia adalah termasuk dalam kriteria seorang mukmin) seharusnya ia mampu menjadi seorang manusia yang profesional disegala bidang pekerjaan yang Allah swt telah anugerahkan untuk dirinya. Mengapa harus demikian?, sebab Allah swt sendirilah yang menuturkan dalam firman Nya selanjutnya; Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Resep yang pertama adalah tumbuhkanlah keyakinan (Faith).

Bukankah dalam pepatah mengatakan dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan!, dalam Qur’an pun Allah menjelaskan bahwa kemauan disini adalah ujud keimanan.

Iman adalah percaya pada Allah, bila sudah percaya maka ia diperintah oleh Allah untuk memperteguh keimanannya itu atau dikenal juga dengan kata yakin (dalam dunia barat dikenal juga dengan sebutan Faith). Yakin pada Allah swt (faith) adalah bertawakal pada Allah swt. Tawakal adalah mengatungkan seluruh harapan / doa (Hope) hanya pada Allah swt, karena hanya Dialah yang mampu membuat segala macam apa yang kita minta dapat terjadi didunia ini. Ketahuilah Allah maha pemurah dan kaya.

Bila sudah tumbuh teguh keimanan ini (keyakinan/faith) maka tiada lagi gantungan harapan selain hanya kepada Allah swt. Tawakal itu hanya pada Allah, karena segala sesuatu itu yang ada diseluruh dunia ini adalah hanya milik Allah swt. Jangan bergantung (berharap) kepada selain Allah sembari engkau berdoa pada Allah, Allah itu sangat besar cemburu Nya, Dia tidak akan pernah mau diduakan.

Resep yang kedua adalah beramal sholeh.

Jikalau ingin mewujudkan mimpi maka berdirilah dan bekerjalah.

Maksud amal shaleh ini adalah perbuatan yang baik, namun secara bahasa motivator, amal shaleh adalah segeralah engkau wujudkan apa yang kita inginkan, lalu kita percaya (yakin/ faith) jikalau kita mampu untuk mewujudkan cita kita tersebut (tentu saja dengan izin Allah swt), maka segeralah bertindak mewujudkannya dengan perbuatan.

Semua mimpi, keinginan, cita kita (insyaallah) adalah harapan (hope) yang baik, maka untuk mewujudkan ini menjadi nyata maka harus dengan perbuatan yang baik, diawali dengan perencanaan yang baik, lalu kita membuat kalkulasi pembiayaan untuk meraih hope tersebut, dalam kalkulasi kita menghitung segala aspek ekonomis untung-rugi dan tolong jangan lupa ada faktor X (yaitu aturan Allah) maka keluarkanlah zakat, infak, dan atau shadaqoh untuk segera membantu pencapaian Hope tersebut.

Resep ketiga menurut Allah swt adalah saling menasehati menurut kebenaran

Maksudnya Allah itu ingin kita saling menjaga diri kita dalam usaha mewujudkan Harapan (hope) tersebut. Anda pasti bingung maksud reilnya (secara nyatanya) itu bagaimana?, tidak perlu bingung, setelah kita berusaha (resep kedua) maka Allah ingin kita saling bersilahturahmi dengan kawan kita (atau seseorang yang lebih ahli daripada diri kita) dan berkonsultasi mengenai langkah-langkah yang telah kita tempuh dalam usaha.

Rosul saw bersabda, bertanyalah pada ahlinya bila kamu belum mengerti, jadi meskipun kita sudah setengah jalan dalam karya (usaha) maka jangan sungkan dan ragu untuk terus berkomunikasi dengan rekan untuk berkonsultasi mengenai langkah-langkah yang sudah kita kerjakan.

Karena itu pandai-pandailah mencari teman. Seharusnya kita memiliki teman yang pandai (alim) dalam urusan hukum Allah (agama), dan juga teman yang ahli (profesional) dalam bidang yang sama dengan kita. Bahkan kalau perlu kita harus punya banyak teman yang ahli dalam bermacam-macam bidang pekerjaan, sehingga jika suatu saat kita perlu pendapatnya maka kita bisa bertanya pada dia mengenai ilmu yang kita belum kuasai.

Sudahkah kita menjaga komunikasi dengan teman kita?

Resep yang keempat adalah saling berpesan dalam kesabaran.

Pepatah jawa mengatakan “alon-alon asal kelakon” pepatah tersebut mengisyaratkan bahwa untuk mendapatkan yang kita harapkan (hope) itu tidak mudah membutukan waktu yang lumayan lama, jadi meskipun pelan-pelan tapi yang penting pada akhirnya tergapai juga karena itu kita dituntut Allah swt untuk bersabar.

Dunia bukan surga, didunia jika kita mempunyai mimpi yang ingin kita raih maka kita butuh mujahadah untuk meraihnya. Dalam mujahadah tersebut Allah inginkan kita sepenuhnya bergantung pada diri Nya bukan yang lain, dan dalam mujahadah tersebut (sebagai proses afirmasi doa) maka Allah swt menuntut kita untuk mampu bersabar, bukankah Allah swt berfirman; “sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”, disaat kita telah mampu untuk sabar dan sepenuhnya tawakal maka meski dengan sedikit usaha saja (insyaallah) semua harapan kita akan Allah ijabahi.

Enak kan, manteb kan tuntunan dari Allah untuk kita menjadi seorang muslim yang profesional.

Mari kita jalankan surat Al Ashr ini, semoga Allah menuntun kita untuk mampu menjalankan ayat-ayat Nya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s