Iman dan Ujian (sebuah tafsir dari surat Al Ankabut ayat 2)

Iman dan Ujian

Tafsir surat Al Ankabut ayat 2

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (Al Ankabut ayat 2)

Ujian adalah sebuah konsekuensi dari syahadat yang telah kita ucapkan, selayaknya seperti sebuah ucapan janji setia pada kekasih hati, maka kelak tentu saja kekasih hati kita akan meminta sesuatu dari diri kita (sebuah pengorbanan) untuk membuktikan tulusnya janji setia yang telah kita ucapkan.

Bila ujian dari kekasih bisa kita lalui dengan selamat, maka hasilnya adalah semakin cinta dan sayang perasaan kekasih kita pada diri kita, demikian juga Allah swt, Dia adalah Tuhan yang memiliki nama Ar Rohman dan Ar Rahim, Cinta Kasih dan Sayang yang ada didunia ini berasal dari nama dan sifat Allah Ar Rohman dan Ar Rohim. Bila mahkluk –Nya saja bisa sedemikian setianya karena pembuktian kalimat cinta, maka Allah akan lebih membalas hamba-hamba Nya (melebihi semua rasa yang ada) yang mengaku beriman padanya.

Ujian adalah sarana bagi mahkluk untuk membuktikan kesungguhan pengabdian dan cintanya mahkluk pada Allah swt dan utusan-Nya Rosul Muhammad saw.

Bentuk dari ujian yang Allah berikan pada manusia itu sangat beragam macamnya dan dapat dalam bentuk yang tak disangka oleh kita.

Ujian dan Cobaan dalam hidup ini adalah seperti dua tepi sisi mata uang logam, Ujian lebih sering Allah gunakan dalam dasar sayang Nya Allah untuk mengetahui derajat cinta dan iman hamba-Nya, dan dengan sarana itu Allah swt akan menaikan derajat hamba Nya yang lulus ujian itu beberapa derajat lebih tinggi dari hamba-hamba Nya yang lain.

Cobaan lebih sering Allah gunakan dengan rasa sayang Nya untuk menegur, menyapa hamba Nya dengan sapaan mesra dan sayang, sapaan yang penuh pengajaran supaya hamba yang dicintainya itu kembali lagi pada jalur cinta Nya.

Sedangkan Azab/Adzab adalah sarana yang Allah swt gunakan untuk membalas perbuatan mahkluk yang Dia ciptakan dan Dia perintahkan untuk tunduk taat pada Nya namun mahkluk tersebut dengan lancangnya berani menantang kekuasaan dan kebesaran Allah swt.

Adzab Allah bisa Dia tumpahkan di dunia maupun Dia tunda kelak di akhirat.

Salah satu bentuk Ujian/Cobaan yang Allah swt berikan pada manusia adalah dengan manusia yang lainnya sebagaimana Allah SWT jelaskan dalam firman-Nya;

….. Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat. (QS Al Furqon ayat 20)

Jadi sangat tidak aneh dan mengherankan kenapa kok didunia ini ada orang-orang jahat atau orang-orang jahil yang suka menganggu sebagian orang-orang baik lainnya. Mereka Allah ciptakan untuk mengasah ke-Imanan kita.

Saat melihat suatu kejahatan dilakukan oleh orang lain maka yang harus kita lakukan adalah menegakan nahi mungkar ;

Dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiallohu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Mengubah kemungkaran dengan tangan, berarti mengubah/mencegah kemungkaran yang terjadi dengan kekuasaan atau dengan kekuatan yang ia miliki.

Mencegah dengan kekuasaan dan atau dengan kekuatan bukan berarti kita boleh memukuli, atau main hakim sendiri atas pelaku kejahatan/kemungkaran/ dan atau kejahilan sehingga orang tersebut akhirnya mati ditangan kita (atau ditangan masa), bila orang tersebut tidak sampai mati maka orang tersebut sekarat kesakitan dirumah sakit.

Coba kita pikirkan, bila orang tersebut yang dihajar masa adalah benar pelaku kejahatan maka saat dia sembuh dari rumah sakit kemungkinan besar dia akan insyaf dari perbuatannya malah akan sangat tipis sekali, kenapa demikian?, karena tabiat manusia adalah mendendam.

Bila yang dipukuli oleh masa itu ternyata bukan pelaku kejahatan yang sebenarnya, tapi teryata korban salah tangkap? Maka sama halnya bahwa kita telah melakukan kemungkaran itu pada orang lain. Dan bila ini kita lakukan lalu sampai orang tersebut meninggal dunia, maka kita telah melakukan dosa besar pada Allah swt karena telah berani mengambil hak Allah akan kehidupan (nyawa) seseorang.

Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.”(AL Kahfi ayat 74)

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan. (Al Israa ayat 30)

Jika kita menjadikan hadits mencegah kemungkaran tersebut dan Al Israa ayat 30 ini sebagai dalil diperbolehkannya untuk membunuh, atau melakukan kemungkaran (main hakim sendiri/mengeroyok orang lain), maka artinya kita bukan termasuk orang-orang yang disebut muslim dan mukmin.

Membunuh jiwa makluk lain (termasuk manusia)telah Allah atur dalam keadaan bagaimana dan kapan boleh membunuh tersebut. Kita boleh membunuh manusia lain antara lain untuk hal berikut ini, membela diri (dan ini pun niat awalnya bukan membunuh/menghakimi namun tak tersengaja dalam pembelaan diri tersebut terpaksa kita harus membunuh orang lain), dan yang kedua adalah dalam keadaan perang (jihad) dan dalam keadaan Jihad pun niat kita membela agama Allah bukan nafsu kita, seperti kisah syaidina Ali ra., saat beliau dalam keadaan Jihad dan hamper saja batang pedang beliau menebas leher musuhnya, dan saat itu musuh beliau meludahinya maka seketika itupula beliau mengurungkan niat nya untuk membunuh musuh beliau tersebut. Saat ditanya oleh musuhnya kenapa beliau lakukan itu, jawab beliau aku takut aku membunuhmu bukan karena Allah tapi karena nafsuku.

Dan bahkan sekalipun dalam keadaan Jihad, membunuh musuh atau membunuh karena Qishos pun Allah swt telah memberikan batasan aturan, yaitu kita tidak boleh berlebihan dalam cara membunuh, maksudnya tidak boleh menyiksa musuh.

Lalu bagaimanakah kita harus mensikapi bila ada seseorang Jahil yang suka menganggu dan menjahati diri kita, seolah-olah kesabaran kita telah habis dibuatnya sedang tingkah lau jahilnya tidak juga berhenti?

Allah swt menjawabnya dalam firman-Nya;

Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri.

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.

Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka.

Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.

Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.

QS. Asy Syuura ayat 39 – 43

Dan Allah menegaskannya kembali dalam firman-Nya;

Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.(Al A’raf ayat 199)

Bahkan Rosullullah Muhammad saw mengajarkan kepada kita untuk tidak ikut-ikutan menjadi seorang yang berbuat kemungkaran dalam menegakkan nahi mungkar, dalam sabdanya ;

Janganlah kamu menjadi orang yang “ikut-ikutan” dengan mengatakan “Kalau orang lain berbuat kebaikan, kami pun akan berbuat baik dan kalau mereka berbuat zalim kami pun akan berbuat zalim”. Tetapi teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, “Kalau orang lain berbuat kebaikan kami berbuat kebaikan pula dan kalau orang lain berbuat kejahatan kami tidak akan melakukannya”. (HR. Tirmidzi)

Kenapa kita harus berbuat demikian?, karena Allah jadikan diri kita adalah ujian untuk manusia yang lain, dan Allah jadikan manusia lain adalah sebagai ujian bagi kita, dan setiap dari diri kita telah Allah ilhami dengan Taqwa dan Fujur, dan tiap diri kita telah mengerti atas dasar taqwa dan fujur tersebut apa yang dinamakan dengan kebaikan dan keburukan, maka dari itu pada hakikatnya tiap diri kita tidak berhak sombong menganggap kita yang paling baik dan taqwa saat kita menatap kejahatan yang dilakukan saudara kita yang lain.

Bencilah pada kejahatan dan kejahilan yang diperbuatnya, namun jangan benci individunya, serulah kejahatan itu dengan hikmah dan kebaikan, tolaklah dengan kekuatan sayang dan cinta, belalah dirimu dengan pembelaan yang sewajarnya dan jangan menganiyaya.

Bila semua itu telah kita kerjakan namun kejahatan masih menganggu kita maka pasrahkan saja semuanya pada Allah swt, dan doakan kebaikan;

“ya Allah hamba pasrah pada Mu atas sikap dan perilaku kaum dholimin, ya Allah Engkau maha mengetahui keadaan hamba Mu maka tolonglah aku, berikanlah mereka kebaikan dan kesadaran atas sikap mereka dengan cara Mu ya Allah,dan ampunilah mereka dalam kasih sayang Mu.”

terakhir sebagai kesimpulan saya ambilkan firman Allah swt berikut ini sebagai bahan perenungan bagi kita,

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.(Al Anbiya ayat 35)

Semoga Allah memberikan kemampuan bagi kita untuk menempuh Jalan Nya.

 

 

 

8 thoughts on “Iman dan Ujian (sebuah tafsir dari surat Al Ankabut ayat 2)

  1. Ping-balik: SURGA – NERAKA DAN YANG MEMAGARINYA | novrizalbinmuslim

  2. Sedikit share dr sy …
    Setiap ujian diberikan untuk individu muslim agar untuk mengukur kadar keimanan mereka. selama kita merasa masih sebagai seorang muslim, jadikanlah setiap musibah sebagai ujian kita dalam perjalanan hidup ini, dan untuk meningkatkan level derajat keimanan kita.
    Berdasarkan ayat-ayat Allah tentang azab, kita lihat azab itu ditujukan kepada manusia non-muslim yang mendurhakai Allah azza wa jalla.

    Waallahu a’alam …

    • Terimakasih atas share ilmu-nya Pak!, emas tak akan menjadi indah sebelum ia diolah dalam tanur api yang panas begitu pula berlian ia tak akan indah sebelum ia digosok dengan batu gerinda dan dipotong sedemikian rupa. begiupula Ujian bagi kaum muslimin dan mukminin adalah sebuah lembaga dari Allah untuk melatih dan meningkatkan kadar keimanan.

  3. Bagaimana membedakan antara ujian dan azab mas. Kalau menurut mas Much melihat azab itu pada akhirnya adalah sebuah ujian juga. Lalu bagaimana dengan contoh salah satu ayat ……. sesungguhnya azabKu amat pedih. Mohon saya yang awam ini bisa dijelaskan, trm ksh.

    • Mohon maaf mas wi baru bisa jawab pertanyaannya

      Kalau anda cermati pernyataan kang Tohar diatas, bahwa beliau memandang Musibah (sesuatu yang tidak enak) adalah sebagai salah satu bentuk ujian/cobaan dari Allah swt jadi bukan azab sebagai salah satu bentuk ujian.

      Azab itu adalah salah satu bentuk hukuman Allah Azza wa jalla kepada mahkluk ciptaan-Nya yang membangkang dan menyombongkan diri kepada Allah swt. Azab ini bisa Allah segerakan hukumannya didunia maupun Allah tunda kelak diakhirat.

      Azab dan Ujian adalah dua bentuk yang sangat berbeda, bila Ujian Allah timpakan karena Rahmad dan Rahim Nya Allah namun Azab Allah timpakan karena Kekuasaan dan Kemarahan Allah swt.

      Pertanyaan anda mengenai salah satu firman Allah; “bahwa Azab Ku amat pedih” sebenarnya telah banyak dijawab oleh Allah swt dalam firman Nya yang lain, sebagai salah satu contoh;

      Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud.” Ketika para rasul datang kepada mereka dari depan dan belakang mereka (dengan menyerukan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah.” Mereka menjawab: “Kalau Tuhan kami menghendaki tentu Dia akan menurunkan malaikat-malaikat-Nya, maka sesungguhnya kami kafir kepada wahyu yang kamu diutus membawanya.” Adapun kaum ‘Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami. Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan Sesungguhnya siksa akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan. (QS Fushilat ayat 13-16)

      Dalam ayat tersebut Allah swt menimpakan siksa didunia dan ditambah lagi nanti siksa diakhirat untuk mereka (kaum Aad yang sombong). Karena itu maka tidak sepantasnya jika kita merasa sombong (merasa lebih) dari hamba Allah yang lain.

  4. benar mas, ujian dan cobaan adalah dua sisi mata uang logam, tergantung dari sisi mana melihatnya. selama melihat selalu dadi sisi positif, maka yang muncul adalah perilaku positif. meskipun dalam surat as-syuraa ayat 30 disebutkan sebagai musibah (azab), tetapi kalau ditelaah lebih lanjut, itu adalah bentuk dadi kasih sayang ALLAH kepada makhluknya, biar tidak kebablasan, biar kembali kepada jalur ataupun tatanan.

    kalau boleh saya berpendapat, dalam menyikapi sesuatu yang tidak enak (versi saya tentunya), saya selalu menganggapnya ini adalah cobaan bahkan saya anggap musibah, biar memupus kesombongan, masih banyak kebusukan,atau kejelekan sehingga timbullah semangat untuk tetap memperbaiki kualitas yg lebih baik.

    manusia tidak punya kekuatan apa2 kalau tidak dikuatkan. doa akan bertumpuk dan manusia tidak akan kuat menanggungnya kalau tidak mendapatkan ampunan dari ALLAH.kunci dari ibadah tidak lain adalah ampunan dan rakhmat itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s