KRL
Tidak pernah membayangkan dahulu, tapi sekarang terlintas betapa nikmatnya naik KRL, kenapa nikmat karena dalam menikmati KRL saya bisa mendapatkan banyak pelajaran hidup disini, terutama dalam dua pelajaran utama dalam syukur dan dalam sabar.
Rosul saw bersabda bahwa iman itu terbagi separuhnya dalam sabar dan separuhnya lagi dalam syukur
Saat sore hari menjelang waktu pulang kami ramai-ramai bergegas jalan ke arah stasiun untuk mengejar KRL (biasanya sih target utama Pakuan 53 atau BOGE) ehm, seru olah raga sore hari mengejar KRL menyehatkan BADAN, itulah kenikmatan tidak langsung naik KRL dan tidak lain kenikmatan itu pantas untuk saya syukuri.
“maka nikmat dari Tuhan mu yang mana yang kamu dustakan?”
Dalam perjalanan jalan cepat ke stasiun kereta, gak berhenti-berhentinya hati ini berdzikir dan berdoa memuji Allah dengan tujuan semoga gak ketinggalan KRL BOGE (sebab bila ketinggalan-jadwal sholat magrib bisa susah di jalan-maksudnya susah menentukan stasiun yang pas untuk berhenti sholat magrib bila ketinggal dua KRL diawal), hem nih salah lain nikmat yang saya wajib syukuri karena dengan harap-harap cemas ini saya semakin menghiba pada Allah swt untuk memberi kenikmatan dapat KRL Pakuaon 53 atau BOGE.
“maka nikmat dari Tuhan mu yang mana yang kamu dustakan?”
maka saat saya sampai diatas peron dan KRL saya muncul (pas banget-karena biasanya mepet waktunya) “ALHAMDULILLAH” puji syukur pada Mu ya Allah, Tuhan dan Maha Raja ku yang mengkaruniai segala kenikmatan ini, terasaplong adem dada ini- ces pleng doa nya terijabahi, karena ini, maka nikmat Tuhan Saya yang manakah yang tidak harus saya syukuri?
ataupun saat kami sudah sampai di peron dan ternyata (ada hari-hari biasanya jadwalnya KRL ngaret) KRL nya belum nyampai dan agak lama kami harap-harap cemas menunggunya maka pelajaran kedua pun berlaku bagi saya yaitu pelajaran untuk bersabar, ehm, gak mudah untuk bersabar lho, karena saya bisa lihat sendiri dari beberapa teman ROKER (rombongan kereta) selalu ngedumel gak karu-karuan saat keretanya telat, meskipun sudah diingatkan untuk bersabar tapi tetap Kawan saya ROKER satu itu ngedumelnya terbawa sepanjang perjalanan, apalagi saat KRL memang telat kosekwensinya adalah KRL pasti akan sangat penuh sesak (lagi-lagi kami harus mampu untuk bersabar, toh akhirnya KRL ini akan berhenti juga di stasiun dan menurunkan sebagian penumpangnya).
Kemudian bila KRL (ekspress) kami posisinya sudah telat, penuh sesak (panas juga meski sudah ada AC), eh ternyata didepan ada KRL ekonomi yang dilepas (tidak ditahan di manggarai atau pasar minggu) wow, mengherankan banyak sekali celoteh yang kurang pantas diucapkan oleh penumpang ekspres (menurut saya-padahal saya yakin sebagian besar dari mereka adalah juga islam) soal KRL ekonomi maupun soal pengatur jadwal perjalan kereta (ehm, tuh kan lagi-lagi kita harus bersabar).
Tapi sungguh sangat harus bersabar lagi bila kita naik KRL ekonomi dari Kota-Bogor, disaat jam sibuk pulang kerja, KRL mereka sudah jumlahnya sedikit, banyak yang tidak layak pakai, dan bila ada KRL Ekspres dibelakan mereka, KRL ekonomi harus mau berhenti menunggu KRL Ekspres untuk didahului, ehm sungguh kesabaran yang sangat besar (menurut saya) bagi mereka saudara-saudara saya yang ada di KRL ekonomi, ah…semoga Allah melapangkan dada mereka.
Lebih harus bisa sabar lagi saat naik KRL ekonomi (terutama) dan Ekspres adalah menghadapi godaan (ehm, maaf) kaum hawa yang kadang kala memakai pakaian seenak nya sendiri saja (mengumbar aurat) apakah mereka belum pernah mendengar bahwa Allah memerintahkan mereka untuk menutup aurat mereka dan begitu pula dengan sabda Rosul saw tentang mereka yang berpakaian tapi hakekatnya telanjang, ah lagi-lagi perlu kesabaran lebih sabar untuk menghadapinya.
Dan perjalanan pun harus berakhir, saat KRL berhenti di stasiun tujuan saya, saya sangat bersyukur bisa kembali lagi ke rumah bertemu keluarga saya dengan selamat, Alhamdulillah.

saya pernah naik kereta api dari Jogja ke purwokerto, ekonomi kelas dan suasana sangat sesak, tp ada enaknya karena ada penjual makanan, minuman dsb. bisa bertemu dengan berbagai macam karakter manusia dan memang itulah keadaannya. suasana ramai, panas, sesak pun terasa nikmat. dan semua tergantung dari yg menjalaninya. dirasa enak ya enak, ndak enak ya ndak enak.. jadi tergantung.
bener mas, persepsi pikiran membuahkan rasa atas apa yang dipersepsikan
pengalaman saya saat naek KRL sangat seru..
dalam gerbong yang penuh sesak..
bergoyang kesana kemari..
panas dan aroma 7 rupa yang terasa..
trasa seru memang..
namun ada yang membuatku sedih..
pada saat saya naik KRL dari sebuah stasiun menuju suatu tempat..
pada saat kereta akan berhenti semua orang bersiap untuk naik ke KRL..
ada seorang lelaki tua yang hendak turun..
namun apa daya, lelaki tua itu terdorong hingga sulit untuk keluar..
bahkan yang lebih parahnya lagi sepatu seorang tua itu terlepas dan tak tau entah kemana..
saya hanya bisa melihatnya mengucap dzikir..
sedih memang melihat hal itu..
saya tak dapat berbuat apa-apa karena saya sendiri terdorong-dorong di dalam KRL..
bukankah kita makhluk-Nya yang amat lemah..
maka apa yang patut kita sombongkan..
kesedihan berikutnya yaitu saya melihat ternyata dalam keramaian seperti itu ada ibu yang membawa anaknya yang masih bayi..
padahal kereta itu sudah sangat sesak dan panas..
sangat menyedihkan memang..
karena panasnya bayi itu menangis..
kereta yang penuh sesak itu semakin lama semakin tambah sesak saja..
setiap stasuin banyak orang yang naik bahkan orang yang ingin turun tidak dapat untuk turun karena terdorong oleh orang-orang yang akan masuk..
setelah samapai di sebuah stasiun kereta itu pun berhenti cukup lama.
ternya setelah cukup lama berhenti, terdengarlah pengumuman bahwa perjalanan KRL tidak dapat dilanjutkan dan terpaksa penumpang harus turun..
tidak sedikit orang yang kecewa dengan hal itu..
setelah menunggu cukup lama akhirnya KRL balik datang juga..
serentak penumpang datang menggerumuninya..
tidak perlu menuggu lama KRL, langsung penuh..
setelah beberapa stasiun terlewati..
saya melihat ada seorang ibu kehilangan hp nya..
entah karena terjatuh atau karena apa..
setelah kejadian ini saya dapat mengambil hikmah bahwa apapun yang terjadi ambillah baiknya..
tidaklah berguna kata-kata yang sia-sia..
kalu nasi telah menjadi bubur maka pikirkanlah bubur ayam spesial maka akan menjadi lebih nikmat..
nikmati hidu ini sinari dengan iman..
tebarkan kebaikan..
“fastabiqul khoirot”
rasa syukur membuat kita menjadi lebih sabar..
firman Allah SWT yang berbunyi:
“maka nikmat dari Tuhan mu yang mana yang kamu dustakan?”
begitu banyak nikmat yang kita rasakan..
tak dapat kita hitung kenikmatan yang Allah SWT yang telah DIA limpahkan kepada kita hamba-Nya yang lemah ini..
Saya pernah naek KRL pada hari raya idul fitri, di KRL penumpang belum begitu penuh dan ada sebagian tempat duduk yg belum terisi. Tapi entah kenapa para pemuda ato laki2 yg mayoritas islam (karna hari raya idul fitri) tidak memberi tempat duduk pada wanita tua. Malah dia bilang ad orangnya ad yg kakinya di luruskan di tempat duduk (posisi tidur). Karna saya berdiri dan saya tidak bisa memberi tempat duduk, dan saya hanya berteriak2 di gerbong tersebut : “sungguh kasian umat yg mengaku dirinya islam tapi tidak punya iman dan ilmu allah, ada wanita tua berdiri kelelahan sedangkan laki2 muda dan sehat hanya melihat dengan duduk sambil tertawa bahagia” yg saya dapati adalah mreka (semua laki2 di gerbong itu) hanya melihat saya saja dan mungkin menganggap saya gila.
*mungkin kiamat sudah dekat*