Tombo Ati (bait ke-empat) Pelengkap
Tulisan ini saya tambahkan sebagai protes
kritikan dari sahabat saya tentang awal tulisan tombo ati bait ke-empat, sahabat saya menambahkan bahwasanya tirakat dan puasa itu bukan sekedar menahan makan dan minum saja, tapi intinya adalah menahan semua hawa nafsu, dalam bentuk emosi amarah, dengki, menahan syhawat dari mata dsb.
Tepat sekali apa yang telah diungkapkan oleh teman saya tersebut, bahwa tirakat dan puasa bukan sekedar menahan lapar dan dahaga saja, tapi juga menahan nafsu yang bisa merusak hati kita.
Bila puasa dan atau tirakat tersebut tidak mampu untuk menahan hawa nafsu maka puasa dan tirakatnya nilainya percuma saja, seperti sabda Rosul saw bahwasanya banyak sekali yang berpuasa tapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja, tentu saja kita tidak inginkan ini terjadi pada diri kita bukan?
Sebenarnya dalam tulisan di artikel awal, dipertengahan saya sempat menyigungnya sedikit,ya mungkin tidak terlihat bila tidak seksama melihatnya sekali lagi, namun saya akan mengulanginya kembali dengan tambahan apa yang telah sahabat saya sampaikan sebelumnya.
Nafsu menjerumuskan Nafs kita dalam kefasikan (kehancuran) pada awal mulanya nafsu akan menyerang hati kita, karena nafsu seperti setan dia ada dalam peredaran darah manusia, maka nafsu merasuk keseluruh tubuh manusia dan memakai beberapa atribut jasad sebagai alat pemuasnya.
seperti mata melihat hal-hal yang haram untuk dilihat, tapi nafsu berhasil membujuk mata untuk melihatnya dan menyampaikan bisikan (kefasikan) pada otak bahwa itu adalah indah dan seksi, maka otak mengafirmasi apa yang dilihat mata tersebut dan akan segera mengirimnya kehati, sebenarnya akal-seharusnya peranannya ada didalam sini, saat otak segera memberikan afirmasi ini pada hati akal harusnya menimbangnya terlebih dahulu (bukankah fungsi akal ada 3,ta’qilun, tafakkarun dan tadabbarun) disini berarti posisi akal sebagai entitas batiniah adalah sebagai bos nya otak sebagai entitas jasadiah. Akal harus bisa menimbangnya dengan tepat, oh ya ini benar dan oh ya ini salah, seharusnya begini atau begitu, bukankah dalam Al Qur’an banyak disebutkan “Apakah kamu tidak mengunakan akalmu (ta’qilun) dan disebutkan pula apakah kamu tidak memikirkan (tafakkarun), bila hasil pertimbagan oleh otak ini diloloskan ke hati maka tugas selanjutnya hati adalah memancarkan afirmasi ini, karena hati itu bagaikan cermin dialah yang memancarkan cahaya ataupun kegelapan, dipancarkan kemana dipancarkan kejiwa dan kebagian tubuh lainnya, apabila cahaya yang dipancarkan maka jiwa akan selamat sedang bila kegelapan yang dipancarkan maka jiwa akan sesat.
sedangkan jiwa itu sendiri saat menerima pancaran energi ini seharusnya bila jiwa itu telah cerdas (karena iman) maka dia harusnya menjadi gawang dari pancaran hati, bukankah dia yang dilhamkan oleh Allah dengan jalan ketaqwaan dan kefasikan, maka terserah dia mau menempuh jalan yang mana, tapi semua keputusan jiwa ini tergantung seberapa banyak afirmasi yang disampaikan padanya apakah dia biasa menerima afirmasi cahaya (positif, kebaikan)sehingga menyinari keimanan, ataukah afirmasi negatif (kefasikan) sehingga membunuh bibit pohon iman itu?
Nafs ini bukan Ruh tapi dia sebagai baju Ruh, sedangkan ruh itu suci dan tersucikan dari segala sifat-sifat duniawi, ruh berasal dari Allah dan secara fitrah ruh mencari tempat kembalinya kembali ke Allah, karena itu jiwa (nafs) ini seringkali merindukan suasana dengan Ilahi.
Tapi mari kita balik kembali pada pokok puasa dan tirakat tadi, bahwa jelalatan-nya mata dan anggota jasad lainnya adalah karena ada energi yang mensuplai si nafsu ini untuk berpolah tingkah, energi tersebut sumbernya ya sama dengan energi bagi anggota tubuh lainnya yakni makanan dan minuman, liahtlah betapa banyak kejahatan terjadi karena perut (baik sebab perut kenyang) lihatlah mereka yang korupsi, ataupun mereka yang suka mabuk didiskotik, mereka yang mencari prostitusi mereka semua yang telah merasakan kenyang tapi mereka tidak bersyukur.
Karena itu awal mula yang paling sederhana adalah membatasi gerak nafsu ini dengan membatasi suplai energi bagi si nafsu, yakni makanan dan minuman. Setelah itu kita tingkatkan dengan belajar menahan gerak pongah si nafsu ini dengan menahan diri dari segala macam perbuatan yang disukai si nafsu diri.
wallahu alam.

DISKUSI KITA