Sebuah Undangan
“Tidaklah Aku ciptakan manusia dan jin itu selain hanya untuk beribadah pada Ku”, seperti redaksi ayat diatas bahwa manusia dan jin adalah memang ber-fitrah untu beribadah, menyembah hanya kepada Allah swt. Namun untuk apa semua proses peribadatan itu harus di lakukan oleh manusia?
Allah ta’alla adalah pencipta kita, maka jelaslah Dia memiliki hak untuk kita sembah, namun tetap ada yang mengelitik hatiku dengan pertanyaan ini. akhirnya jawaban pertanyaan yang sempat mengendap bertahun-tahun ini saya dapatkan juga, dengan izin dari Allah swt.
jawabannya mulai runtut dari ayat; “Bukankah aku ini Tuhanmu, dan manusia menjawab benar dan kami menyaksikannya”, manusia (meskipun bukan secara dhohir seperti saat ini) telah diperkenalkan dan menyaksikan Allah Azza wajalla, jauh dahulu kala saat pertama setelah nabi Adam as diciptakan oleh Allah azza wajalla.
kedua, “Sesungguhnya aku adalah Allah, maka dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku”
kalau kita mencoba untuk cermati, sebenarnya menurut saya pribadi ayat ini adalah undangan Allah swt untuk manusia, undangan untuk kembali kepada Allah, untuk menjadi hamba-hamba Nya lagi.
Dzikri , atau Dzikir artinya adalah ingat (mengingat), dalam kaitannya dengan ayat yang pertama adalah: kita melalui wadah Shalat, diharapkan oleh Allah untuk dapat mengingat (dalam artian kembali kepada Allah) “wahai orang-orang yang beriman masuklah islam secara menyeluruh”, mengingat itu kalau kita pahami secara istilah adalah kita pernah tahu sesuatu itu yang dahulu kita pernah jumpa lalu kita pisah, dan saat kita jumpa lagi maka kita akan berusaha untuk mengingat-ingat kembali pada sesuatu itu saat awal kita jumpa dahulu, namun disini mengingat itu bukan lagi pada sesuatu tapi pada Allah Azza wajalla, yang dahulu kita pernah menyaksikan-Nya dikala penyaksian pertama, lalu kita terpisah kembali hingga kita terlahir didunia yang fana ini. Melalui shalat diharapkan manusia dapat kembali pada keadaan awal dahulu saat penyaksian, untuk membuktikan kebenaran dari hadits: “shalatlah seakan-akan kamu melihat Allah, kalau tidak bisa maka ketahuilah bahwa Allah melihatmu.” bukankah Rosul saw juga pernah bersabda bahwa “Mi’raj nya orang muslim adalah dalam shalat”. lalu shalat yang seperti apakah yang bisa menghantarkan manusia untuk memenuhi undangan Allah swt ?
Yang jelas bukan dalam shalatnya orang-orang yang lalai / mabuk sehingga mereka tidak akan pernah mengingat Tuhan mereka, “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang Shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya”, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu Shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan”. Tentu bukan shalat seperti contoh ayat diatas yang bisa menghantarkan manusia kepada derajat ihsan, yang diharapkan adalah shalat yang bisa ; “dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar…” bagaimana caranya agar bisa menggapai shalat yang seperti ini tidak lain adalah dengan shalat yang khusu’, “Peliharalah semua shalat mu, dan peliharalah shalat whustaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan Khusyu’.”

DISKUSI KITA