Harmoni alam
Langit cerah, biru merona tiada mendung menutup sinar sang surya.
Allah swt begitu sempurna mencipta semua dilangit dan bumi tiada sia-sia. Hangatnya mentari pagi terasa nikmat merasuk hingga kedalam tulang mengusir dingin dan penyakit akibat angin malam.
Angin sepoi bertiup lembut, menengok daun-daun berkibar laksana tarian.
Alam bernyanyi, menyayikan lagu pujian, subhanallah Allahu Akbar.
Niat
Niat itu ada dimana?, dalam ibadah sholat niat itu bukan dalam kalimat ushali, karena toh memang Rosul saw tidak pernah mengajarkan kalimat usholli sebelum sholat.
Dalam wudhu niat juga bukan dalam kalimat nawaitu, karena toh Rosul saw juga tidak pernah mengajarkan yang sedemikian itu.
atau dalam puasa juga demikian, niat bukan dalam kalimat nawaitu shauma ghomma, toh Rosul saw juga tidak mengajarkan yang demikian.
Niat itu ada dalam setiap tindakan, perilaku, perubahan posisi dan sikap tubuh kita dalam beribadah.
Memang niat itu ada dalam hati, dia adalah sebuah kesadaran bahwa ibadah ini adalah untuk Gusti Allah swt bukan untuk dirinya atau bukan pula untuk yang lainnya.
Itulah niat dalam pengertian yang saya ketahui, jadi bukan sekedar kalimat diawal sebuah perbuatan karena saya ingat sabda beliau bahwa menambah-nambah sesuatu dalam ibadah adalah termasuk Bid’ah dan Bid’ah itu tempatnya adalah neraka.
Iman secara dasar
Dzalikal kitabu la raiba fihi huda lil mutaqin…ini adalah sebuah kitab yang tidak akan ditemukan keraguan didalamnya, petunjuk untuk kaum yang bertakwa pada Allah azza wa jala. Siapakah mereka itu, yang Allah puji sebagai mutaqin? Mereka adalah yang memenuhi persyaratan berikutnya dari Allah. Alladzina yu’minuna bil ghaibi…mereka yg percaya akan perkara yang ghaib…mereka iman pada Allah meski belum mampu membuka perkara ghaib tersebut…cara nya adalah wa yuqimunas shalata..menegakan shalat..wa atuz zakata..mengeluarkan zakat (termasuk shadaqah dsb). Mereka juga beriman pada al Qur’an dan kitab-kitab yang dahulu pernah Allah turunkan untuk umat yang lalu, dan yang menjadi kontrol adalah pengetahuan akan kehidupan di alam dunia ini yang tak abadi.
Alhamdulilahi rabbil alamin
Dalam fatikah Allah swt mengajarkan kita untuk mampu bersyukur dengan kalimat Alhamdulilahi rabbil alamin – segala puji bagi Allah rabb semesta alam.
Pujian sebagai tanda syukur ini adalah sekaligus sebagai pengakuan akan ketiada berdayaan kita dalam menantang segala kehendak yang Dia ujikan dan atau timpakan pada diri kita.
Kalimat hamdalah ini adalah perwujudan rasa syukur, syukur dalam artian bukan hanya saat menerima sesuatu yang menyenangkan hati kita namun juga saat kita mendapatkan Ujian, Cobaan atau Teguran berupa musibah dari Allah swt, mampukah kita menempatkan hamdalah ini dalam setiap keadaan tersebut?
Tahun Baru
Saat peringatan tahun baru islam, 1 Muharam sebagian teman-teman bertanya, mau nyuci keris dimana kamu?, atau jangan lupa nanti malam kerisnya dicuci ya!
Tahun baru islam dalam dunia jawa dikenal juga sebagai malam 1 suro, dimana sebagian penganut kejawen mempercayai bahwa malam 1 suro tersebut penuh kekuatan magis untuk mensucikan benda-benda Pusaka tersebut.
Bagi saya keris atau tombak adalah gaman, dari kata gegaman, yang artinya sesuatu yang digenggam untuk mempertahankan diri.
Gegaman saya yang paling digdaya dan utama adalah yang bersemayam didalam hati saya yaitu IMAN didalam dada.
Malam tahun baru islam tentu saja gegaman saya, harus saya sucikan maksudnya saya laukan instropeksi diri apa saja yang telah saya perbuat dalam tahun kemaren yang sesuai dan yang tidak sesuai dengan apa yang Allah swt dan Rosul-Nya inginkan.
itulah mencuci gaman bagi saya.
Syukur
Alhamdulilah atas setiap ujian, masalah, musibah, cobaan dan bencana yang Engkau timpakan pada diri kami, namun Engkau kuatkan diri kami dan Engkau mampukan diri kami untuk menyelesaikan setiap Ujian, Masalah, Musibah, Cobaan dan Bencana tersebut.
Engkau ajarkan pada diri kami hikmah yang dapat kami petik dari ujian, masalah, musibah, cobaan dan bencana.
Engkau dekatkan diri kami kembali kepada-Mu melalui masalah-masalah tersebut hanya untuk kembali hanya pada-MU.
Dalam ratap doa kami mengakui kekuasaan-Mu, padahal kami bukan apa-apa dan kami juga bukan siapa-siapa, namun Engkau-lah yang Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha Pemaaf dengan segala Keagungan dan Kelembutan-Mu, Engkau tarik kami dalam belaian kasih sayang-Mu.
Engkau-lah yang senantiasa member harapan yang tak kunjung padam pada diri kami.
Kami terikat pada-Mu, maka ikatlah kami dengan kekuasaan dan kelembutan-Mu jangan ikat diri kami dengan kekuasaan dan kekuatan-Mu niscaya hancur diri kami menghadapinya.
Bahkan dengan belaian cinta dan sayang-Mu diri ini tak sanggup untuk berdiri.
Apa artinya ibadahku dibanding rahmat-Mu ?
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan
IQRO’
Iqro’, Bacalah – membaca apa yang ada dalam diri manusia dan membaca apa yang ada dialam semsta ciptaan Allah swt, bacalah dan akan kamu temukan bukti-bukti kebesaran Allah swt.
Bacalah dan pahamilah, maka disana akan kita temukan bahwa Allah pun berkomunikasi pada kita melalui semua peristiwa yang terjadi pada diri kita, pada keluarga kita, pada lingkungan kita dan pada alam semesta ini.
Bacalah dan bukalah pikiranmu, lalu bukalah ahtimu, dan pakailah akalmu (iman) untuk memahami pa yang diinginkan oleh Allah dalam setiap kejadian dan peristiwa.
anatomi manusia bagian tiga “sesuatu yang belum dikenal”
sesuatu yang belum dikenal itu adalah dzur (benih) manusia, dzur adalah an nafs (jiwa) kita yang dahulu melakukan persaksian/perjanjian (sumpah keesaan yang pertama) dengan Allah swt.
An Nass (manusia) itu adalah rangkaian antara dua dimensi, dimensi ruhiyah dan dimensi jasadiyah.
Ruhiyah manusia terdiri atas An Nafs/ nafsa/ jiwa, Qulb/qolbu/hati, aql/akal/iman dan ruh ammr robbi
Jasadiyah manusia terdiri atas jasad tubuh manusia, pikir (otak), dan nafsu syahwat.
Saat dahulu dalam alam azali dimana disaat itu yang terwujud dari manusia adalah dalam dimensi ruhiyah, yang terwujud adalah nafs (jiwa), nafs yang melakukan persaksian ini adalah ruh yang terbungkus dengan jiwa.
Nafs ini telah hidup dan kemudian sesaat setelah persaksian itu terikrar maka Allah jadikan kembali nafs ini menjadi anak keturunan nabi Adam (dan sesuai dengan sunatulloh) maka nafs ini masuk kedalam darah daging Adam as, dan berbentuk serupa sperma manusia.
Namun tidak berarti nafs itu adalah sperma, berjuta sperma terpancarkan dalam satu hubungan biologis namun yang dibutuhkan dan yang hidup hanya satu yang mampu membuahi sel telur dalam ovarium.
Secara hukum alam – sunatulloh itulah proses biologis manusia, dan itu pula awal mula proses dikenalnya nafsa menjadi seorang insan.
Nafs harus menjalani proses ini dan merasakan hidup atau tinggal didunia sebab dunia ini telah Allah swt ciptakan untuk manusia, karena manusia adalah seorang khalifatulloh dimuka bumi-nya Allah ini.
Dunia adalah tempat ujian benar tidaknya kesungguhan seorang insan dalam perjanjian yang pertama. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” QS. 29 ayat 2.
Dalam kitabnya al-Tanwir fi isqath al-Tabdir, imam Ibn Athaillah menulis catatan; Allah swt. telah membuat perjanjian dengan seluruh hamba untuk tidak ikut mengatur bersama-Nya lewat firman-Nya, Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” QS. 7 ayat 162
Pengakuan bahwa Dia adalah Tuhan mereka meniscayakan sikap pasrah sepenuhnya dan tidak ingin ikut mengatur bersama-Nya. Itulah akad perjanjian yang pertama yang diucapkannya sebelum ia menjadi nafs-yang selalu risau dan ingin ikut mengatur bersama Allah swt. – keadaan pertama saat dzur melakukan akad perjanjian tersebut dengan Allah swt. adalah keadaan dimana kita pada saat itu tiada terhijab dan dekat dengan Allah swt. – karena itulah kemudian Ibn Athaillah melanjutkan, seandainya hamba tetap berada dalam kodisi pertama yang tak terhijab dan dekat dengan Allah swt. tentu dia tidak ingin ikut mengatur bersama Allah swt.
Inilah fase dimana manusia saat itu adalah sesuatu yang belum dikenal, dzur kita adalah nafs.

DISKUSI KITA